Resolusi Jihad KH Hasyim Asy'ari yang Bangkitkan Santri
KH Hasyim Asy'ari mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 yang menyerukan kewajiban mempertahankan kemerdekaan bagi umat Islam di sekitar zona perang. Seruan itu memicu gelombang partisipasi ribuan santri dan menjadi faktor penting dalam peristiwa-peristiwa krusial awal Republik Indonesia.
Kilas hidup dan pendidikan
Hasyim Asy'ari lahir di Gedang, Jombang, Jawa Timur, pada 10 April 1875. Ia tumbuh dalam keluarga ulama yang kuat tradisi keilmuan Islamnya. Lingkungan ini membentuknya menjadi tokoh yang disiplin menuntut ilmu.
Pada 1892 ia menikah dengan Nafisah dan kemudian melanjutkan ziarah ilmu ke Makkah. Pengalaman belajar di sana menjadi modal penting saat ia kembali dan mendirikan pusat pendidikan Islam.
Pondok Tebuireng dan pendirian NU
Pada 1899 Hasyim Asy'ari mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang. Pesantren itu berkembang pesat dan melahirkan banyak ulama serta tokoh bangsa.
Perpaduan tradisi pesantren dengan wawasan kebangsaan menjadi ciri sistem pendidikannya. Pada 1926 ia turut mendirikan Nahdlatul Ulama, yang berfokus pada penguatan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, pendidikan, dan dakwah.
Penolakan penjajahan dan penangkapan
Ketika Jepang menduduki Indonesia, KH Hasyim Asy'ari menolak melakukan seikerei atau penghormatan kepada Kaisar Jepang karena bertentangan dengan akidah. Sikap ini berujung pada penangkapan oleh pemerintah pendudukan, namun tidak melemahkan kecintaan dan perjuangannya bagi agama serta bangsa.
Resolusi Jihad 22 Oktober 1945
Pada 22 Oktober 1945, bersama ulama dari Jawa dan Madura, Hasyim Asy'ari mengeluarkan Resolusi Jihad. Fatwa ini menyatakan bahwa mempertahankan kemerdekaan merupakan kewajiban bagi umat Islam yang berada dalam radius sekitar 90 kilometer dari medan pertempuran.
Seruan tersebut membangkitkan semangat perjuangan dan menggerakkan pembentukan laskar-laskar santri. Gelombang dukungan dari para santri berkontribusi signifikan dalam Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945.
Laskar, pengaruh politik, dan penghargaan
Selain fatwa, Hasyim Asy'ari mendorong pembentukan laskar Hizbullah dan Sabilillah. Kelompok-kelompok ini membantu perlawanan rakyat saat agresi pascakemerdekaan.
Atas jasanya di bidang pendidikan, dakwah, dan perjuangan, negara menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 294 Tahun 1964 yang diumumkan pada 17 November 1964.
Warisan dan makna
Hingga kini pesantren Tebuireng dan Nahdlatul Ulama meneruskan warisan Hasyim Asy'ari. Perannya menunjukkan bahwa pendidikan agama, dakwah, dan nasionalisme dapat berjalan berdampingan dan menjadi fondasi perjuangan kemerdekaan.
Sumber dan rujukan:
- Buku Tokoh-Tokoh NU Bergelar Pahlawan Nasional – Sunanto
- KH. Hasyim Asy'ari: Pengabdian Seorang Kyai Untuk Negeri – Ahmad Baso dkk
- Ensiklopedia Kemendikbud
- Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 294 Tahun 1964
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pendaftaran War Tiket Upacara HUT ke-81 di Istana Dibuka
Pendaftaran war tiket untuk Upacara HUT ke-81 di Istana Merdeka dibuka 5-7 Agustus 2026. Kuota 8.100 tiket,...
Aturan Pemasangan Bendera Merah Putih di Rumah Saat HUT RI
Pengibaran bendera wajib setiap 17 Agustus sesuai UU No.24/2009; atur waktu, tata cara, larangan, dan dukung...
BMKG Perkuat Peringatan Dini Hadapi El Nino Kuat 2026
BMKG memperkuat sistem peringatan dini dan pendekatan "From Early Warning to Early Action" menjelang El Nino...
Filosofi Lomba Makan Kerupuk: Simbol Perjuangan dan Kebersamaan
Lomba makan kerupuk jadi simbol perjuangan dan kebersamaan dalam perayaan HUT RI, tumbuh sejak 1950-an sebag...
Pertempuran Surabaya 10 November: Kronologi, Tokoh, dan Fakta
10 November 1945: pertempuran Surabaya menandai perlawanan besar terhadap pasukan Sekutu, korban besar dan s...
Anugerah Jurnalistik MHT 2026 Digelar Akhir Agustus di Balai Agung
PWI Jaya siap gelar Anugerah Jurnalistik MHT 2026 akhir Agustus di Balai Agung; tanggal menunggu persetujuan...