Hiburan

Rani Jambak Padukan Sulam Tradisional Minangkabau dan Teknologi

Bagikan:
Rani Jambak dengan bingkai sulam Minangkabau dan perangkat audio di Galeri Nasional

Seniman Sumatra Barat Rani Jambak menampilkan karya Mamasak Asa yang memadukan sulam tradisional Minangkabau dengan teknologi audio pada 16 Mei 2026 di Galeri Nasional Indonesia. Karya ini menjadi bagian pameran Indonesian Women Artists (IWA) #4: On The Map yang menyorot praktik seni perempuan lintas generasi.

Pertunjukan dan Konsep

Rani menggunakan bingkai sulam tradisional Minangkabau atau Pamedangan sebagai panggung utama. Aktivitas menyulam diubah menjadi sumber bunyi elektronik yang terintegrasi dalam instalasi. Pengunjung diajak terlibat langsung, termasuk kesempatan menyulam untuk menghasilkan suara.

Teknologi dan Proses Kreatif

Setiap tusukan jarum mengirim sinyal yang diproses menjadi komposisi audio. Suara hasil penyusunan jarum berpadu dengan bunyi alam dan pembacaan naskah tradisional Minangkabau, membentuk lapisan bunyi yang bersinggungan antara tradisi dan modernitas.

Rani memanfaatkan perangkat Touch Me dari Playtronica untuk mengubah sentuhan tubuh dan aktivitas menyulam menjadi sinyal audio. Perangkat ini memungkinkan perantara manusia menjadi penghantar bunyi, sehingga aktivitas sehari-hari berfungsi sebagai instrumen musik elektronik.

Inspirasi Sejarah dan Kolaborasi

Karya Mamasak Asa terinspirasi oleh sejarah perempuan Minangkabau, khususnya figur Rohana Kudus. Rohana dikenal sebagai jurnalis perempuan pertama Indonesia yang mendirikan Rumah Kerajinan Amai Setia di Koto Gadang pada 1915. Rani membaca Amai Setia sebagai simbol ruang belajar dan pemberdayaan perempuan.

Dalam pengembangan karya, Rani belajar langsung dari penyulam tradisional di Koto Tuo dan berkolaborasi dengan penyulam generasi keempat, Essy Hariya. Kolaborasi ini dimaksudkan untuk menjaga dan meneruskan pengetahuan perempuan lintas generasi.

Pameran dan Kurasi

Pameran IWA #4 dikuratori oleh beberapa kurator yang menghadirkan perspektif beragam dalam karya perempuan. Kurator pameran antara lain:

  • Carla Bianpoen
  • Nyoman Vidhyasuri Utami
  • Bagus Purwoadi

Pameran mengeksplorasi hubungan budaya, tubuh, teknologi, dan lingkungan lewat karya perupa perempuan dari berbagai generasi.

Makna dan Implikasi

Rani menolak pandangan tradisi sebagai sesuatu yang statis. Menurutnya, tradisi dapat berkembang dan berdialog dengan teknologi modern, sekaligus mempertahankan nilai budaya.

Saya ingin menunjukkan bahwa tradisi sebenarnya memiliki frekuensi yang masih bisa kita dengarkan hari ini

Dengan membawa aktivitas domestik seperti menyulam ke ranah seni kontemporer, Mamasak Asa juga merayakan peran perempuan sebagai penjaga pengetahuan budaya. Karya ini membuka ruang baru bagi pengetahuan tradisional untuk tampil dalam bahasa artistik modern.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait