Hiburan

Sebelum Dangdut: Sejarah Gambus dan Perannya pada Musik Melayu

Bagikan:
Ilustrasi musisi gambus tradisional memainkan gambus pada pertunjukan

Gambus adalah tradisi musik berdawai dari Timur Tengah yang sudah mengakar di Nusantara sejak abad ke-19. Musik ini masuk bersama gelombang migrasi dan penyebaran Islam, lalu beradaptasi di wilayah Melayu hingga memengaruhi perkembangan yang kemudian dikenal sebagai dangdut.

Asal-usul dan masuk ke Nusantara

Alat bernama gambus merupakan instrumen berdawai yang dimainkan dengan dipetik. Perkembangannya di Indonesia berkaitan erat dengan kedatangan masyarakat Arab dan aktivitas dakwah. Musik ini awalnya banyak dipakai dalam konteks keagamaan dan pengajian.

Penyesuaian daerah Melayu

Di berbagai wilayah Melayu, gambus berubah bentuk dan cara penyajian. Misalnya, bentuk gambus selodang di Riau yang kemudian mengiringi tari Zapin. Perpaduan antara unsur Arab dan warna Melayu menghasilkan variasi yang lebih kaya.

Peran sosial dan pertunjukan

Seiring waktu, gambus tidak hanya hadir di masjid atau pengajian. Kelompok-kelompok orkes gambus muncul dan tampil dalam acara pernikahan, khitanan, dan kegiatan sosial lain. Pertunjukan ini memperluas jangkauan musik dan mempertemukan gambus dengan unsur lokal lain.

Dampak pada evolusi dangdut

Memasuki pertengahan abad ke-20, orkes gambus ikut membentuk lanskap musik Melayu. Perpaduan ritme, melodi, dan instrumen membuka jalan bagi transformasi genre. Istilah dangdut baru populer ketika warna baru—terutama dari bunyi gendang dan tabla—mencolokkan identitas tersendiri.

Perubahan menuju dangdut berlangsung bertahap. Sejumlah kelompok musik dan penyanyi membawa inovasi yang menguatkan karakter genre ini. Salah satu tokoh yang berpengaruh dalam pengokohan dangdut modern adalah Rhoma Irama, yang membantu menjadikan dangdut sebagai musik populer dengan ciri khas yang tegas.

Jejak gambus dalam musik kontemporer

Walau dangdut berkembang dan terus berevolusi, jejak gambus tetap terlihat pada musik Melayu dan beberapa elemen dangdut. Gambus menjadi contoh proses akulturasi musik luar dengan budaya lokal, di mana instrumen, ritme, dan fungsi sosial musik mengalami transformasi.

Perjalanan gambus dari alat musik pembawa tradisi ke bagian dari hiburan masyarakat menunjukkan bagaimana pertemuan budaya bisa melahirkan genre baru. Jejak itu masih bisa ditemukan pada aransemen, instrumen, dan repertoar yang terus hidup di berbagai wilayah Nusantara.

Tiara Permata
Penulis
Tiara Permata

Jurnalis hiburan yang fokus pada dunia selebritas, film, musik, dan budaya populer.

Berita Terkait