Pengadilan Tinggi Banda Aceh Dukung Program Kanwil Hukum Aceh
Banda Aceh — Ketua Pengadilan Tinggi (KPT) Banda Aceh, Dr Sutio Jumagi Akhirno, SH, MH, menerima kunjungan kerja Kepala Kantor Wilayah Hukum Provinsi Aceh, Dr Meurah Budiman, SH, MH, pada Rabu (16/09/2026). Pertemuan di ruang kerja KPT membahas dua program utama Kanwil Hukum Aceh yang memerlukan dukungan pengadilan, yakni sosialisasi peradilan adat gampong berbasis Qanun Aceh dan pembinaan notaris terkait perlindungan HAKI.
Pertemuan dan peserta
Pertemuan berjalan hangat dan formal. Selain Kepala Kanwil Hukum, hadir Kadiv Peraturan Perundangan dan Pembinaan Hukum Muhammad Ardiningrat Hidayat, SH, MPA, serta Kadiv Pelayanan Hukum Purwandani Harum Pinulihan, SH, MH.
Dari pihak Pengadilan Tinggi tampak Wakil KPT A Bondan, SH, MH, Hakim Ad Hoc Tipikor Dr Taqwaddin, SH, SE, MS, Panitera Drs Effendi, SH, dan Plh Sekretaris Ridwan, SH, MH. Pertemuan berfokus pada sinergi kelembagaan untuk menguatkan layanan hukum publik di Aceh.
Dua program prioritas Kanwil Hukum
Dr Meurah Budiman meminta dukungan pengadilan untuk dua program yang sedang berjalan di Aceh. Pertama, sosialisasi bantuan hukum berbasis Qanun Aceh untuk penyelesaian sengketa melalui peradilan adat gampong. Kedua, program pembinaan notaris yang menekankan perlindungan atas hak atas kekayaan intelektual (HAKI).
Kedua program ini ditujukan untuk memperkuat mekanisme penyelesaian sengketa lokal dan melindungi kepentingan hukum masyarakat serta pelaku usaha yang berkaitan dengan dokumen notarial dan kekayaan intelektual.
Dukungan Pengadilan Tinggi
Pengadilan Tinggi Banda Aceh menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif Kanwil Hukum. Dr Sutio menyebutkan bahwa wilayah yudikatifnya membawahi 22 Pengadilan Negeri se-Aceh dengan jumlah perkara tingkat banding sekitar 800-an per tahun.
Dr Sutio juga menekankan perubahan orientasi peradilan pidana sejak berlakunya KUHP dan KUHAP pada 2 Januari 2026. Menurutnya, fokus peradilan kini tidak hanya pada pemidanaan, tetapi juga pada tindakan restoratif, ganti rugi, dan pemaafan hakim, yang dapat mengakomodasi penyelesaian secara adat sesuai Qanun Aceh.
Pengadilan menilai keterlibatan hakim yang memahami substansi Qanun Aceh, seperti Dr Taqwaddin, akan memperkuat implementasi program ini di pengadilan negeri.
“Sebaiknya kita buat nota kesepahaman kerjasama untuk memformalkan kesepakatan kita ini”
Prospek dan langkah ke depan
Para pihak sepakat melanjutkan koordinasi untuk menyusun kerangka kerja sama formal. Langkah itu diharapkan mempercepat sosialisasi peradilan adat gampong dan memperkuat perlindungan HAKI melalui pembinaan notaris.
Koordinasi lintas lembaga ini dipandang penting untuk mengoptimalkan pelayanan publik hukum di Aceh dan memastikan penerapan Qanun Aceh berjalan selaras dengan sistem peradilan nasional.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Turunkan Bunga PNM Mekar menjadi 8% Flat per Tahun
Pemerintah menargetkan suku bunga PNM Mekar diturunkan menjadi 8% flat per tahun, didukung subsidi Rp2,6 tri...
Golkar Labura Terima SK Kepengurusan 2025–2030, Fokus Konsolidasi
DPD Golkar Labuhanbatu Utara menerima SK kepengurusan 2025–2030 dan menargetkan konsolidasi serta regenerasi...
Razia di Rutan Banda Aceh, Senjata Tajam dan Benda Terlarang Ditemukan
Razia gabungan di Rutan Kelas IIB Banda Aceh menemukan senjata tajam dan barang terlarang, namun tidak menem...
Wali Kota: Sabang Potensial Jadi Gerbang Ekonomi dan Hub Maritim
Wali Kota Sabang hadir di seminar IKAL Aceh dan sebut Sabang berpotensi jadi hub maritim serta butuh kepasti...
Reses DPRK Subulussalam: Warga Keluhkan Lampu Jalan, Usulkan BLK Kecamatan
Warga Penanggalan keluhkan lampu jalan padam, usulkan BLK kecamatan, air bersih, dan penambahan kursi DPRK p...
Tuntutan 3 Tahun untuk Dua PSK Terkait Pemerasan ASN BPN di Medan
Dua PSK, Fajar dan Junia, dituntut tiga tahun penjara atas pemerasan terhadap ASN BPN Nias, Apriaman Lase, y...