Bobby Nasution Teken Komitmen KPK untuk Perbaiki Tata Kelola Sumut
MEDAN – Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution bersama 33 kepala daerah se-Provinsi Sumut menandatangani komitmen bersama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Kamis, 17 September. Penandatanganan digelar dalam Rapat Koordinasi Penguatan Tata Kelola Pemerintah Daerah dan Pencegahan Korupsi, dengan tujuan memperbaiki tata kelola pemerintahan dan memperkuat upaya pencegahan korupsi melalui keterlibatan seluruh pemangku kepentingan.
Komitmen bersama untuk pencegahan korupsi
Bobby menekankan pencegahan korupsi harus berjalan komprehensif dan tidak hanya berfokus pada pemerintah daerah. Ia meminta semua pihak yang terkait dengan Pemda dilibatkan agar upaya pencegahan dan penanganan berjalan menyeluruh.
"Kami berharap penanganan dan pencegahan korupsi di Sumut dilakukan secara komprehensif karena Sumut dan juga daerah lainnya itu terdiri dari banyak stakeholder dan itu tentu terkait satu sama lain,"
Bobby memastikan Pemerintah Provinsi bersama 33 kepala daerah dan DPRD berkomitmen memperbaiki tata kelola sekaligus memperkuat integritas. Kehadiran KPK menurutnya menjadi pengingat untuk terus meningkatkan integritas dalam penyelenggaraan pemerintahan.
"Bersama kepala daerah lainnya, DPRD kami berkomitmen untuk memperbaiki bersama, mengantisipasi dan mencegah terjadinya korupsi, dan kehadiran KPK hari ini mengingatkan kami kembali untuk terus meningkatkan integritas,"
Peran APIP menurut KPK
Pimpinan KPK, Johanis Tanak, menyoroti peran Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP) sebagai kunci perbaikan tata kelola. Ia menilai APIP harus mampu berfungsi sebagai early warning bagi kepala daerah dan aparatur sipil negara.
"Kita perlu memperkuat posisi APIP, bukan hanya dipilih di daerah, tetapi juga harus mendapat persetujuan dari Kemendagri, jadi tidak bisa diberhentikan oleh kepala daerah atau pejabat, harus dari Kemendagri dan kemudian kita perkuat payung hukumnya lewat Perpres,"
Pandangan Kemendagri soal fungsi APIP
Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus menambahkan bahwa kualitas APIP krusial untuk mencegah penyimpangan administratif yang berpotensi berujung pada tindak pidana korupsi. Menurutnya, deteksi dan tindak lanjut internal idealnya dilakukan sebelum kasus masuk ke aparat penegak hukum.
"Kalau APIP-nya berkualitas maka pemerintahan akan berjalan lebih baik, bila ada penyimpangan sebelum ke APH (Aparat Penegak Hukum) ada opsi pengembalian, bila juga tidak dilaksanakan barulah ke APH, APIP itu partner Pemda, jadi bukan yang harus dihindari,"
Penandatanganan komitmen ini menandai langkah awal koordinasi yang lebih intens antara KPK, eksekutif daerah, dan DPRD untuk memperbaiki tata kelola. Selanjutnya, fokus akan bergeser pada penguatan kelembagaan APIP melalui regulasi dan mekanisme persetujuan Kemendagri agar fungsi pengawasan intern berjalan efektif sebagai pencegah dini penyimpangan.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Pemerintah Turunkan Bunga PNM Mekar menjadi 8% Flat per Tahun
Pemerintah menargetkan suku bunga PNM Mekar diturunkan menjadi 8% flat per tahun, didukung subsidi Rp2,6 tri...
Golkar Labura Terima SK Kepengurusan 2025–2030, Fokus Konsolidasi
DPD Golkar Labuhanbatu Utara menerima SK kepengurusan 2025–2030 dan menargetkan konsolidasi serta regenerasi...
Razia di Rutan Banda Aceh, Senjata Tajam dan Benda Terlarang Ditemukan
Razia gabungan di Rutan Kelas IIB Banda Aceh menemukan senjata tajam dan barang terlarang, namun tidak menem...
Wali Kota: Sabang Potensial Jadi Gerbang Ekonomi dan Hub Maritim
Wali Kota Sabang hadir di seminar IKAL Aceh dan sebut Sabang berpotensi jadi hub maritim serta butuh kepasti...
Reses DPRK Subulussalam: Warga Keluhkan Lampu Jalan, Usulkan BLK Kecamatan
Warga Penanggalan keluhkan lampu jalan padam, usulkan BLK kecamatan, air bersih, dan penambahan kursi DPRK p...
Tuntutan 3 Tahun untuk Dua PSK Terkait Pemerasan ASN BPN di Medan
Dua PSK, Fajar dan Junia, dituntut tiga tahun penjara atas pemerasan terhadap ASN BPN Nias, Apriaman Lase, y...