Menko Muhaimin Dukung Prioritas Bumil, Busui, dan Balita dalam MBG
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar menyambut perbaikan tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi Badan Gizi Nasional (BGN). Ia mendukung penetapan skala prioritas bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita sebagai upaya mempercepat penurunan angka stunting.
Alasan penetapan prioritas
Muhaimin menilai kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita memiliki peran penentu terhadap kualitas generasi mendatang. Oleh sebab itu, pemberian intervensi gizi pada kelompok ini dipandang memberi dampak terbesar dalam jangka pendek dan panjang untuk mengatasi stunting.
“Saya melihat skala prioritas, yaitu ibu menyusui, ibu hamil, dan balita, itu skala prioritas yang paling tepat. Sehingga, yang lain sebelum skala prioritas harus merelakan untuk mengatasi stunting secara lebih efektif dan cepat,”
Prioritas bukan pengabaian penerima lain
Meski menekankan prioritas, Muhaimin menegaskan hal itu bukan berarti penerima manfaat lain diabaikan. Pemerintah hanya ingin memastikan kelompok paling rentan memperoleh perhatian utama agar tujuan program tercapai secara optimal.
“Di sisi yang lain, manajemen dan tata kelola kelembagaan yang ada, sekaligus saya berharap kepada semua pihak yang telah terlibat untuk duduk bersama memberikan solusi. Hal ini dilakukan untuk efektif betul sesuai sasaran yang diperintahkan oleh Presiden,”
Perbaikan tata kelola dan harapan pelaksanaan
Menurut Muhaimin, evaluasi dan penataan yang dilakukan BGN akan memperkuat pelaksanaan MBG. Perbaikan manajemen diharapkan meningkatkan efektivitas program sekaligus memperkuat upaya pemenuhan gizi sebagai bagian pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
Ia mendorong seluruh pemangku kepentingan duduk bersama mencari solusi teknis dan operasional. Langkah ini dianggap penting agar distribusi bantuan gizi tepat sasaran dan memberikan hasil yang terukur terhadap penurunan stunting.
Implikasi ke depan
Dengan fokus pada bumil, busui, dan balita, program MBG diharapkan lebih cepat menunjukkan hasil dalam menurunkan stunting. Keberhasilan langkah ini akan bergantung pada koordinasi antar-institusi, transparansi penyaluran, dan pemantauan yang ketat.
Penguatan tata kelola serta komitmen bersama antar-pihak menjadi kunci untuk memastikan intervensi gizi memberikan dampak signifikan pada kualitas kesehatan dan perkembangan anak di Indonesia.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
PPKI: Langkah Awal Pembentukan Negara Pasca Proklamasi
PPKI menggelar sidang pertama pada 18 Agustus 1945 dan menetapkan UUD 1945, Soekarno-Hatta, serta pembentuka...
18 Agustus: Hari Konstitusi dan Hari Penelitian Kanker Payudara
18 Agustus 2026 diperingati sebagai Hari Konstitusi RI dan World Breast Cancer Research Day, sementara HUT M...
DKI Kirim Tenaga Medis dan Rp3,8 M Bantuan untuk Korban Gempa NTT
Pemprov DKI mengirim tenaga kesehatan dan bantuan Rp3,8 miliar untuk korban gempa NTT; dana dari ASN dan aja...
Basarnas Evakuasi 3 Korban Gempa M7,7 di Manggarai Timur
Basarnas mengevakuasi tiga korban gempa M7,7 di Manggarai Timur pada 18 Agustus 2026; semua korban dirujuk k...
Menpora Maknai HUT ke-81 RI: Keberanian Kibarkan Merah Putih
Menpora Erick Thohir memaknai HUT ke-81 RI sebagai keberanian mengibarkan Merah Putih di panggung internasio...
UMN Latih Wirausaha Muda Sablon di Curug Sangereng
UMN melatih 23 anggota Karang Taruna Desa Curug Sangereng dalam sablon manual dan desain digital berbasis AI...