Prabowo Tegaskan Pentingnya Pelajari Sejarah untuk Ekonomi RI
Presiden Prabowo Subianto mengingatkan pentingnya mempelajari sejarah bangsa dalam konteks perekonomian Indonesia saat menyampaikan pidato pada rapat paripurna DPR RI, Selasa, 20 Mei 2026. Ia menekankan bahwa pengalaman masa lalu harus jadi pelajaran untuk menghadapi tantangan, hambatan, dan kekurangan ekonomi saat ini.
Pesan utama di rapat paripurna
Dalam pidatonya, Prabowo menyambungkan pengalaman para pendiri bangsa dengan kondisi ekonomi sekarang. Ia mengatakan para pendiri memahami langsung penderitaan akibat penjajahan dan imperialisme. Oleh karena itu, pelajaran sejarah harus menjadi pedoman bagi generasi kini.
“Para pendiri bangsa kita bukan orang-orang yang lugu atau naif. Mereka merasakan penjajahan,”
Sejarah, penghinaan, dan harga diri
Presiden menegaskan bahwa para pendiri juga merasakan penghinaan dan perbudakan pada masa kolonial. Ia menyoroti bagaimana penjajahan merampas kehormatan dan harga diri bangsa. Pesan itu dimaksudkan agar bangsa tidak lagi menelan kekalahan psikologis di era baru.
“Mereka merasakan dihina dan diperbudak. Mereka merasakan dirampas kehormatan dan harga diri bangsa Indonesia,”
Menolak rendah diri, tetap belajar dari bangsa lain
Prabowo memperingatkan agar Indonesia tidak rendah diri terhadap negara lain. Namun ia juga mendorong bangsa untuk belajar dari pengalaman negara lain tanpa mengagumi cara-cara merampas kekayaan. Sikap itu penting untuk menjaga kemandirian ekonomi dan kehormatan nasional.
“Janganlah kita terlalu kagum kepada bangsa-bangsa yang kaya dari merampas kekayaan bangsa lain. Janganlah kita rendah diri,”
Sejarah sebagai pedoman masa depan
Lebih jauh, Presiden menegaskan bahwa melupakan sejarah membawa risiko. Menurutnya, pelajaran sejarah harus membentuk kebijakan dan sikap strategis agar bangsa mampu menghadapi tantangan global tanpa kehilangan martabat.
“Kita juga harus belajar dari sejarah. Mereka yang tidak belajar dari sejarah akan dihukum oleh sejarah,”
Pesan Prabowo di paripurna DPR menempatkan sejarah sebagai kerangka berpikir untuk menjaga kemandirian dan kehormatan ekonomi Indonesia. Pernyataan ini membuka diskusi tentang bagaimana pengalaman masa lalu dapat diterjemahkan ke langkah kebijakan ekonomi ke depan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Bendera Raksasa 10x5 m Dikibarkan di Muara Tujuh Sungai Subang
Bendera Merah Putih 10x5 meter dikibarkan di Muara Tujuh Sungai, Subang saat HUT RI ke-81 sambil mengkampany...
Menekraf Apresiasi Pameran SBY Art Community di TIM
Menekraf Teuku Riefky Harsya apresiasi pameran SBY Art Community di TIM (18–30 Agustus 2026) sebagai ruang k...
Perlinsos Digital: Bakom Sebut Pendaftaran Bansos dari 200 Hari Jadi 5 Menit
Bakom: uji coba Perlinsos Digital mempercepat pendaftaran bansos dari 200 hari menjadi sekitar lima menit, d...
Wamentrans Viva Yoga Ajak Bantu Korban Gempa NTT saat HUT RI ke-81
Wamentrans Viva Yoga mengajak semua pihak bantu korban gempa NTT saat perayaan HUT RI ke-81 dan menekankan s...
Kemenko PMK Prioritaskan Pemulihan Pendidikan Pascagempa NTT
Kemenko PMK memprioritaskan pemulihan layanan pendidikan pascagempa NTT, memaksimalkan gudang di Labuan Bajo...
512 Sekolah Terdampak Gempa Flores, Pembelajaran Beralih Daring
Sebanyak 512 sekolah di Flores terdampak gempa 7,7 pada 19 Agustus 2026; pembelajaran beralih daring dan ten...