PM-AAS Dongkrak Produktivitas Padi di Brebes hingga 10,43 Ton/Ha
PM-AAS atau Pertanian Modern-Advanced Agriculture System berhasil meningkatkan produktivitas padi menjadi 10,43 ton gabah kering panen per hektare di Desa Kedungneng, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, pada panen Selasa, 4 Agustus 2026. Angka ini hampir dua kali lipat dibandingkan rata-rata produktivitas petani setempat yang berkisar 5–6 ton per hektare.
Angka panen dan target perluasan
Hasil panen tersebut menjadi bukti awal keberhasilan paket teknologi PM-AAS yang diterapkan dalam skala pilot. Program ini merupakan bagian dari strategi Kementerian Pertanian untuk mempercepat modernisasi pertanian dan mendukung target swasembada pangan nasional.
Hingga September 2026, penerapan PM-AAS di Provinsi Jawa Tengah ditargetkan mencapai 138.284 hektare. Secara nasional, pemerintah menargetkan perluasan PM-AAS hingga satu juta hektare pada tahun berjalan.
Pendekatan teknologi terpadu
Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), Fadjry Djufry, mengatakan PM-AAS mengintegrasikan beberapa teknologi dan praktik budidaya dalam satu sistem produksi. Pendekatan ini mencakup varietas unggul, mekanisasi, pengelolaan hara dan air, serta pendampingan intensif kepada petani.
- Sistem tanam jajar legowo
- Pemupukan berimbang
- Pengelolaan air dengan metode Alternate Wetting and Drying (AWD)
- Penggunaan mekanisasi dan pendampingan teknis
"Pilot project yang kami lakukan di berbagai daerah menunjukkan hasil yang sangat menjanjikan. Karena itu tahun ini PM-AAS mulai diperluas di seluruh Indonesia dengan target penerapan mencapai satu juta hektare. Harapannya, produktivitas meningkat dan pendapatan petani ikut terdongkrak,"
Respon petani dan dukungan pemerintah daerah
Petani penerima manfaat di Desa Kedungneng menyatakan pengalaman positif setelah menerapkan paket teknologi tersebut. Salah satu petani, Setia, mengaku awalnya ragu namun berubah setelah melihat hasil panen yang lebih baik.
"Alhamdulillah hasilnya bagus. Awalnya saya tidak percaya karena biasanya cara saya bertani tidak seperti ini. Tapi semakin hari pertanamannya tumbuh semakin bagus, dan ke depan Insya Allah saya mau lanjut lagi," ujar Setia.
Sementara itu, Asisten II Sekretaris Daerah Kabupaten Brebes, Ineke Tri Sulistyowaty, menilai modernisasi pertanian menjadi kebutuhan untuk menjawab tantangan sektor. Ia menekankan pentingnya inovasi, teknologi, kolaborasi, dan penguatan kelembagaan petani untuk mendukung keberlanjutan program.
Implikasi dan prospek ke depan
Keberhasilan awal di Brebes menunjukkan potensi peningkatan produktivitas yang signifikan bila paket teknologi diterapkan secara terpadu dan didampingi. Jika perluasan program mencapai target, dampak pada produksi padi nasional dan penguatan pendapatan petani berpeluang terlihat dalam beberapa musim tanam ke depan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
BMKG: Sulawesi Utara Berisiko Kekeringan Awal Agustus 2026
BMKG peringatkan potensi kekeringan meteorologis di Sulawesi Utara awal Agustus 2026 akibat curah hujan menu...
Mentan Serahkan Traktor ke Petani Wonosari, Dorong Modernisasi
Mentan Andi Amran menyerahkan satu unit traktor kepada kelompok tani Wonosari, Semarang, usai inspeksi menda...
Korban Tewas Lakalantas Turun 22,92% pada Juli 2026
Korlantas: korban meninggal akibat kecelakaan turun 22,92% pada Juli 2026, namun luka berat naik 11,05%; dat...
Sejarah Paskibraka: Dari Gagasan 1946 hingga Perpres 51/2022
Sejarah Paskibraka bermula 1946 oleh Husein Mutahar dan kini diatur Perpres 51/2022 sebagai program kaderisa...
Hadiah Lomba 17 Agustus: 5 Pilihan Edukatif untuk Anak
Rekomendasi hadiah lomba 17 Agustus yang edukatif dan terjangkau untuk anak, mendorong kreativitas, kemandir...
Sejarah & Makna Bendera Merah Putih: Dari Pusaka ke Duplikat
Asal, pengibaran, dan pelestarian Bendera Merah Putih: dari Bendera Pusaka yang dijahit Fatmawati hingga pem...