Menteri Dorong Pertahanan Pesisir Hibrida untuk Atasi Banjir Rob
Menteri Lingkungan Hidup, Moh Jumhur Hidayat, mendorong penerapan pertahanan pesisir hibrida untuk mengatasi banjir rob dan krisis lingkungan di Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah. Pernyataan itu disampaikan saat memberikan kuliah umum di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), Selasa, 2 Juni 2026.
Apa itu pertahanan pesisir hibrida?
Menurut Menteri Jumhur, hybrid coastal defense mengombinasikan infrastruktur fisik dan pendekatan berbasis ekosistem. Komponen fisik meliputi tanggul besar, sistem pompa, dan polder. Sementara pendekatan ekosistem melibatkan perlindungan estuari, pengendalian air tanah, penataan ruang yang ketat, serta restorasi mangrove.
Peran mangrove sebagai benteng alami
Menteri menekankan pentingnya mangrove sebagai proteksi alamiah yang efektif dan multifungsi. Mangrove tidak hanya meredam gelombang tetapi juga memulihkan habitat dan mendukung ekonomi pesisir.
Hutan mangrove dapat menurunkan tinggi gelombang 13–66% dalam jarak 100 meter. Juga sekaligus memulihkan habitat ikan dan ekonomi masyarakat pesisir.
Catatan atas rencana tanggul laut raksasa
Pemerintah daerah sempat mengusulkan pembangunan tanggul laut raksasa di Pantura. Namun Menteri Jumhur memperingatkan infrastruktur beton semata tidak cukup dan berisiko sia-sia dalam jangka panjang jika faktor pendukung tidak dikendalikan.
Tanggul laut raksasa tersebut berisiko menjadi tidak efektif dan sia-sia dalam jangka panjang. Selama ekstraksi air tanah secara masif, pelanggaran tata ruang, dan kerusakan ekosistem pesisir tidak dikendalikan.
Akar masalah: laut naik dan daratan turun
Menteri juga menjelaskan akar krisis pesisir bukan hanya kenaikan muka laut, melainkan kombinasi kenaikan laut dan penurunan muka tanah. Ia memaparkan data laju kenaikan muka laut sekitar 2,1 mm per tahun, sedangkan penurunan muka tanah di kawasan Semarang–Demak mencapai 0,010–0,150 meter per tahun.
Akar masalah rob bukan hanya laut yang naik, tetapi daratan yang turun. Kenaikan muka laut sekitar 2,1 mm per tahun, sementara penurunan muka tanah di Semarang–Demak dapat mencapai 0,010–0,150 meter per tahun.
Langkah yang direkomendasikan
Untuk menahan ancaman rob secara berkelanjutan, Menteri Jumhur mengusulkan pendekatan terpadu yang menggabungkan tindakan teknis dan perlindungan ekosistem. Langkah inti yang disarankan meliputi:
- Restorasi dan konservasi mangrove di zona pesisir
- Pengendalian ekstraksi air tanah untuk mengurangi penurunan muka tanah
- Penerapan tata ruang ketat dan pengelolaan estuari
- Pembangunan infrastruktur fisik sebagai pelengkap, bukan solusi tunggal
Pendekatan ini menekankan bahwa solusi permanen harus mempertimbangkan faktor ekologis dan sosial, bukan hanya pembangunan beton. Upaya terpadu diharapkan menurunkan risiko banjir rob dan memperbaiki kondisi lingkungan pesisir dalam jangka panjang.
Berita Terkait
Yenny Wahid Terpilih Ketua Umum KOWANI dalam KLB 3 Juni 2026
Yenny Wahid resmi terpilih sebagai Ketua Umum KOWANI pada KLB 3 Juni 2026; kepengurusan baru memaparkan lima...
MaiA: Platform AI Permudah Rencana Perjalanan Wisatawan
Kemenpar meluncurkan MaiA, platform AI untuk memudahkan penyusunan rencana perjalanan dan mempromosikan dest...
Pelemahan Rupiah Dongkrak Daya Saing Pariwisata Indonesia
Pelemahan rupiah membuat Indonesia lebih murah bagi wisatawan asing, mendorong kunjungan dari Asia meski tan...
Gede Narayana Ditunjuk Jadi Wakil Ketua Komisi Informasi Pusat
Gede Narayana resmi ditunjuk sebagai Wakil Ketua KIP menggantikan Arya Sandhiyudha; penetapan melalui rapat...
Pemerintah Siapkan Sanksi Publik bagi Pelanggar Uji Tuntas HAM
KemenHAM siapkan sanksi, termasuk publikasi identitas, bagi perusahaan >2.000 pekerja yang tak lapor uji tun...
DPR: Diplomasi Presiden Kunci Hadapi Tantangan Geopolitik
DPR menilai diplomasi presiden penting hadapi gejolak geopolitik; masukan publik layak dipertimbangkan, tapi...