Perempuan Sarinah Dorong KWT Mawar Olah Sampah Jadi Pupuk
Trenggalek — Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini, memperkuat program Perempuan Sarinah dengan mendorong pengolahan sampah organik menjadi pupuk oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Mawar di Desa Jambu, Kecamatan Tugu pada Jumat (13/2/2026). Program ini ditujukan untuk menjaga lingkungan sekaligus memperkuat ketahanan pangan keluarga tanpa mengeksploitasi alam.
Inisiatif dan tujuan program
Novita, legislator perempuan satu-satunya dari Dapil VII Jawa Timur, menyatakan Trenggalek harus berkembang sambil menjaga kelestarian alam. Ia ingin ketahanan pangan, lingkungan, dan perempuan tumbuh bersamaan. Tujuannya adalah mengubah sampah rumah tangga dan sisa produksi menjadi produk bernilai ekonomi.
"Kita ingin membangun ketahanan pangan, ketahanan lingkungan, dan ketahanan perempuan. Jangan sampai eksploitasi hari ini mengorbankan masa depan anak cucu kita,"
Pengolahan sampah oleh KWT Mawar
Melalui program, KWT Mawar diarahkan menjadi pionir pengolahan sampah organik rumah tangga, limbah dapur, hingga sisa pertanian menjadi pupuk organik. Langkah ini menjawab dua persoalan sekaligus: naiknya harga pupuk dan meningkatnya volume sampah rumah tangga.
Dengan produksi pupuk mandiri, anggota KWT bisa memenuhi kebutuhan lahan sendiri dan menawarkan produk lebih terjangkau untuk petani lain. Dampaknya, pendapatan perempuan meningkat dan ketergantungan pada pupuk pabrik dapat berkurang.
Pengelolaan limbah lain dan pembagian peran
Novita juga menekankan pengelolaan limbah minyak jelantah agar tidak mencemari lingkungan. Ia mendorong pengaturan tugas yang jelas antara pengelolaan sampah organik, non-organik, dan minyak bekas.
- Sampah organik: diolah menjadi kompos atau pupuk cair
- Sampah non-organik: dipilah untuk didaur ulang atau dimanfaatkan kembali
- Minyak jelantah: dikumpulkan dan diolah agar tidak mencemari tanah dan air
"Kita ingin Trenggalek menuju zero sampah. Sampah tidak boleh dibakar, tetapi harus diolah agar memiliki nilai ekonomi,"
Dukungan terhadap target Net Zero Carbon
Gerakan ini juga sejalan dengan visi Pemerintah Kabupaten Trenggalek menuju Net Zero Carbon. Pengolahan sampah yang lebih baik diharapkan mengurangi emisi dari pembakaran sampah dan memperkuat ketahanan lingkungan di daerah yang rawan bencana.
Ke depan, program akan difokuskan pada pelatihan teknis, penguatan jejaring pemasaran produk pupuk, dan peningkatan kapasitas kelompok perempuan. Harapannya, ekonomi lokal tumbuh, lingkungan menjadi lebih hijau, dan target Net Zero Carbon dapat dicapai lebih cepat.
Berita Terkait
Liga Kampung Bung Karno di Bondowoso Cari Bibit Sepak Bola
Liga Kampung Bung Karno di Bondowoso dimulai 6 Juni 2026, diikuti 16 klub lokal untuk pembinaan dan pencaria...
Selendang Semanggi Buka Stan Permanen di Jalan Tunjungan
Selendang Semanggi buka stan permanen di Jalan Tunjungan pada 8 Juni 2026 untuk memperkuat UMKM dan melestar...
DPC PDI Perjuangan Madiun Ziarah TMP Peringati Bulan Bung Karno
DPC PDI Perjuangan Kota Madiun menggelar ziarah dan tabur bunga di TMP Kota Madiun pada 8 Juni 2026 dalam ra...
Sonny Ajak Warga Situbondo Jadikan Ikan Menu Utama Cegah Stunting
Sonny T. Danaparamita ajak warga Situbondo jadikan ikan menu utama untuk tingkatkan protein dan cegah stunti...
DPRD Jatim Tinjau Tambang Magetan, Mata Air Terancam
DPRD Jatim meninjau tambang di Sayutan, Magetan; ditemukan mata air, rembesan, dan potensi dampak pada permu...
Novita Hardini: Mitigasi Mendesak untuk Jaga Daya Saing Manufaktur
Novita Hardini minta langkah mitigasi konkret agar manufaktur tak tertekan oleh kenaikan biaya energi, logis...