OJK: Penghimpunan Dana Pasar Modal Capai Rp113,13 T per Juli 2026
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penghimpunan dana korporasi di pasar modal domestik mencapai Rp113,13 triliun hingga 31 Juli 2026. Laporan disampaikan oleh Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, pada 4 Agustus 2026 di Jakarta, yang menyatakan pasar modal tetap menjadi sumber pembiayaan jangka panjang bagi dunia usaha.
Penghimpunan dana: didominasi EBUS
OJK menyebut sebagian besar dana yang dihimpun berasal dari penerbitan Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS). Hingga 31 Juli 2026, nilai penerbitan EBUS tercatat sebesar Rp98,27 triliun. Kondisi ini menunjukkan preferensi korporasi terhadap instrumen hutang dan sukuk untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan.
Kondisi pasar dan pergerakan IHSG
Menurut OJK, pasar modal sempat mengalami konsolidasi pada kuartal II 2026. Namun memasuki kuartal III, tren mulai membaik dan menunjukkan pemulihan. Per 31 Juli 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 6.236,13, atau menguat 10,51 persen month to date (mtd).
Penghimpunan dana oleh korporasi domestik di pasar modal tetap terjaga, pasar modal domestik tetap menjalankan peran pentingnya sebagai sumber pembiayaan jangka panjang bagi dunia usaha.
Kinerja industri pengelolaan investasi
OJK melaporkan kinerja industri manajer investasi tetap terjaga. Nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana tercatat sebesar Rp652,90 triliun pada akhir kuartal II 2026. Memasuki Juli, NAB reksa dana meningkat menjadi Rp663.26 triliun per 30 Juli 2026, atau tumbuh 1,59 persen quarter on quarter (qoq).
Memasuki bulan Juli 2026, tren tetap terjaga positif, NAB reksa dana mencapai Rp663.26 triliun per 30 Juli 2026, atau tumbuh 1,59 persen qoq.
Reformasi pasar dan roadmap
OJK bersama self-regulatory organization (SRO) terus melanjutkan reformasi untuk memperkuat integritas pasar modal. Upaya ini mencakup penguatan kelembagaan, pendalaman pasar, serta penyempurnaan regulasi.
OJK telah menerbitkan sejumlah roadmap strategis untuk mendukung pengembangan pasar dan keberlanjutan, antara lain:
- Roadmap Pengembangan Pasar Derivatif Berlandaskan Instrumen Pasar Modal 2026–2030
- Roadmap Pasar Modal Berkelanjutan Indonesia 2026–2030
Dokumen-dokumen tersebut diharapkan memperkuat daya saing pasar modal Indonesia sekaligus mendukung pengembangan ekonomi berkelanjutan di masa mendatang.
Dengan dominasi penerbitan EBUS dan pemulihan indeks pada Juli, OJK menilai pasar modal tetap berperan sebagai alternatif pembiayaan jangka panjang bagi korporasi, sementara reformasi dan roadmap menjadi fondasi untuk pendalaman pasar ke depan.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...