Mendag Pacu Pengesahan FTA Indonesia-EAEU dan Tiga Perjanjian ASEAN
Menteri Perdagangan Budi Santoso mendorong pengesahan empat perjanjian perdagangan internasional melalui Peraturan Presiden untuk mempercepat implementasi dan memperluas manfaat bagi ekspor nasional. Pernyataan itu disampaikan usai Komisi VI DPR RI memberikan persetujuan, Selasa, 21 Juli 2026, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta.
Langkah pengesahan dan tujuan
Pemerintah akan menindaklanjuti persetujuan DPR dengan proses pengesahan melalui Peraturan Presiden. Tujuannya memperluas akses pasar dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok regional serta global.
"Komisi VI DPR RI telah menyetujui pengesahan empat perjanjian perdagangan internasional sehingga pemerintah dapat segera menindaklanjuti proses pengesahannya. Indonesia perlu terus memperluas pasar ekspor, dan perjanjian perdagangan untuk meningkatkan daya saing sekaligus membuka peluang pasar baru," ujar Budi.
Empat perjanjian yang didorong
Keempat perjanjian yang mendapat persetujuan adalah:
- Indonesia-EAEU Free Trade Agreement (FTA)
- Second Protocol to Amend the ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA)
- ACFTA 3.0 Upgrade Protocol
- ASEAN Framework Agreement on Food Safety Regulatory Framework (AFSRFA)
Potensi nilai ekspor dan produk unggulan
Budi menyatakan Indonesia-EAEU FTA membuka akses pasar ke lima negara anggota Uni Ekonomi Eurasia dan memperkuat posisi EAEU sebagai hub ekspor ke Asia Tengah, Asia Barat, dan Eropa Timur. Pemerintah menilai potensi peningkatan ekspor mencapai USD 2,87-2,89 miliar.
Produk yang diperkirakan mendapat manfaat meliputi:
- Minyak sawit dan turunannya
- Karet alam
- Kopi
- Produk perikanan
- Tekstil dan alas kaki
- Furnitur dan mesin
"Selain meningkatkan daya saing pelaku usaha kita, perjanjian ini akan membuka peluang produk Indonesia memasuki hub EAEU. Untuk wilayah Asia Tengah, Asia Barat, dan Eropa Timur," kata Budi.
Pembaruan ATIGA dan ACFTA 3.0
Budi menjelaskan Second Protocol ATIGA memperkuat komitmen liberalisasi dan fasilitasi perdagangan ASEAN. Pembaruan juga memasukkan kerja sama ekonomi-teknis dan penguatan UMKM. Pada 2024, tingkat pemanfaatan fasilitas preferensi tarif ATIGA oleh pelaku usaha Indonesia mencapai 82,73 persen.
Sementara itu, ACFTA 3.0 Upgrade Protocol memperluas kerja sama di bidang baru yang mendukung perdagangan modern tanpa mengubah komitmen akses pasar yang sudah berlaku.
"Berdasarkan kajian Kemendag, pengesahan ACFTA 3.0 Upgrade Protocol berpotensi meningkatkan nilai perdagangan Indonesia dengan Tiongkok. Pada 2025, total perdagangan kedua negara mencapai puncaknya dengan perolehan nilai sebesar USD154,6 miliar," ujar Budi.
Keamanan pangan dan dampak ekonomi AFSRFA
AFSRFA ditujukan memperkuat koordinasi kebijakan keamanan pangan di ASEAN. Kerangka ini memberi kepastian lebih bagi pelaku usaha dalam memenuhi persyaratan pasar kawasan.
Kajian Kemendag memperkirakan implementasi AFSRFA dapat meningkatkan neraca perdagangan sektor pangan Indonesia sebesar USD 634,83 juta dan menghasilkan welfare gain nasional sekitar USD 252,17 juta.
"AFSRFA tidak hanya memperkuat sistem keamanan pangan di kawasan ASEAN, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang nyata. Harmonisasi regulasi akan membantu menurunkan biaya kepatuhan bagi pelaku usaha, mendorong investasi di sektor pangan," kata Budi.
Pemerintah kini fokus merampungkan proses administrasi pengesahan untuk mempercepat implementasi perjanjian. Langkah selanjutnya adalah menetapkan Peraturan Presiden dan memfasilitasi penyesuaian regulasi domestik agar pelaku usaha dapat langsung memanfaatkan fasilitas baru.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...