Bapanas: Harga Telur dan Ayam Broiler Mulai Pulih
Badan Pangan Nasional (Bapanas)
Kenaikan harga di tingkat peternak
Menurut Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, tren harga telur dan ayam broiler mulai naik bertahap setelah periode penurunan tajam sebelumnya. Hal ini memberi angin segar bagi peternak lokal yang sempat terpukul.
Kita kan negara produsen, tentu harganya harus wajar. Jangan sampai peternak kita tidak mau berproduksi, masa kita harus impor.
Dia mengajak semua pihak untuk bersama-sama menjaga kewajaran harga di tingkat peternak agar produksi unggas dalam negeri tetap berkesinambungan.
Data produksi dan kebutuhan nasional
Bapanas mencatat Indonesia mengalami surplus produksi pada awal 2026. Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Bapanas, produksi telur ayam ras Januari–Juli 2026 diperkirakan mencapai 4,17 juta ton, sementara kebutuhan nasional diperkirakan sekitar 3,8 juta ton.
Untuk daging ayam ras, produksi pada periode sama diproyeksikan mencapai 2,93 juta ton, lebih tinggi dari kebutuhan nasional yang diperkirakan 2,34 juta ton.
Indeks harga peternak dan tren mingguan
Meskipun ada kenaikan harga akhir Juli, indeks harga yang diterima peternak berdasarkan data Badan Pusat Statistik menunjukkan penurunan sejak Maret 2026. Indeks pada Maret berada di level 138,19, lalu turun 10,96 poin menjadi 127,23 pada Juni 2026.
Sebagaimana arahan Bapak Kepala Bapanas beserta kementerian terkait, semua bergerak agar bagaimana mengupayakan harga telur kembali mulai baik. Untuk harga ayam pun sama.
Pemantauan Bapanas per 21 Juli 2026 menunjukkan rata-rata harga telur ayam ras di tingkat peternak naik 3,15 persen menjadi Rp23.676 per kilogram. Harga ayam broiler di tingkat peternak naik 2,68 persen menjadi Rp22.477 per kg berat hidup.
Secara regional, harga telur peternak terendah tercatat di Jawa Timur Rp22.456 per kg dan tertinggi di Sulawesi Utara Rp28.240 per kg. Untuk ayam broiler, harga terendah tercatat di Banten Rp20.375 per kg dan tertinggi di Sumatera Barat Rp25.714 per kg.
Langkah penyerapan dan prospek
Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian telah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional untuk menyerap produksi telur melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG). Penyerapan ini diharapkan membantu mempercepat pemulihan harga di tingkat peternak.
Meski harga di tingkat konsumen turut naik, Bapanas mencatat kenaikan tersebut belum menembus plafon Harga Acuan Penjualan (HAP), sehingga kondisi pasar dinilai masih dalam koridor yang relatif baik.
Dengan data produksi yang menunjukkan surplus dan langkah penyerapan domestik, pemerintah berharap tren kenaikan harga ini akan berlanjut menuju tingkat yang wajar tanpa mengorbankan ketersediaan pangan.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...