Ekonomi

Dana Bergulir Dongkrak Ekosistem Usaha BMT THS Lombok

Bagikan:

LPDB Koperasi memperkuat peran koperasi sebagai pusat pemberdayaan ekonomi lewat penyaluran dana bergulir disertai pendampingan. Dampaknya terlihat pada KSPPS BMT Tunas Harapan Syantara (BMT THS) di Lombok Timur, NTB, yang membangun ekosistem usaha syariah terintegrasi sejak 2013.

Peran pendampingan LPDB

LPDB Koperasi tidak hanya menyalurkan dana, tetapi juga memberi pendampingan tata kelola, monitoring usaha, dan peningkatan kapasitas pengurus. Pendekatan ini memicu pertumbuhan koperasi yang berkelanjutan dan memberi manfaat luas bagi anggota.

"Keberhasilan BMT Tunas Harapan Syantara menunjukkan bahwa dana bergulir akan memberikan dampak yang jauh lebih besar ketika dikelola oleh koperasi yang memiliki tata kelola yang baik, membangun ekosistem usaha anggotanya, dan terus berinovasi. Bagi LPDB Koperasi, pembiayaan hanyalah pintu masuk," ujar Krisdianto, Direktur Utama LPDB Koperasi.

"Yang jauh lebih penting adalah bagaimana koperasi bertumbuh, anggotanya semakin berdaya, usahanya berkembang, dan manfaat ekonomi dapat dirasakan masyarakat secara luas," tambahnya.

Model closed loop ecosystem BMT THS

Kepala pengurus BMT THS, Sarni, mengatakan koperasi memisahkan unit usaha produktif ke badan usaha tersendiri agar fokus pada fungsi intermediasi keuangan. Langkah itu menumbuhkan model closed loop ecosystem yang menghubungkan petani ikan, distributor pakan, pengepul, hingga akses pasar.

"Bagi petani, mereka tidak lagi bingung mencari modal, membeli pakan, ataupun menjual hasil panennya. Semua sudah terhubung dalam satu sistem," kata Sarni.

Sistem ini melibatkan sekitar 300 petani dan sekitar 10 pengepul yang membina puluhan petani. Sebagian hasil produksi juga memasok Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dampak langsung pada anggota

Anggota melaporkan kemudahan akses modal dan kepastian pasar. Pembiayaan disesuaikan dengan siklus usaha budidaya sehingga tidak membebani pelaku usaha.

"Kalau petani ikan itu yang paling penting modal cepat dan pembayarannya menyesuaikan musim panen. Di BMT THS kami dibantu pembiayaan sesuai kebutuhan usaha. Cicilannya juga mengikuti siklus usaha kami, jadi tidak memberatkan," ujar Mahrip, petani ikan anggota BMT THS.

"Saya pernah mencoba mengajukan ke bank, tetapi belum tentu bisa disetujui. Di koperasi prosesnya lebih mudah, persyaratannya tidak rumit, dan sangat membantu usaha kami," kata Murdini, pengepul ikan yang memanfaatkan pembiayaan untuk kendaraan operasional.

"Di koperasi lebih mudah, lebih cepat, dan yang paling penting menggunakan prinsip syariah. Saya sangat terbantu karena usaha peternakan itu membutuhkan keputusan yang cepat," ujar Jalaluddin, peternak ayam petelur.

Transformasi digital dan hasil nyata

BMT THS didukung pengurus milenial dan Generasi Z yang menerapkan inovasi digital lewat aplikasi My Collector dan THS Mobile. Kepercayaan masyarakat terlihat dari kenaikan aset koperasi dari sekitar Rp10 miliar menjadi Rp18 miliar.

Saat ini usaha anggota mencakup peternakan lebih dari 3.000 ayam petelur dengan produksi sekitar 100 tray telur per hari. Beberapa hasil laut disalurkan ke pasar tradisional dan fasilitas cold storage sebelum dipasarkan.

Keberhasilan BMT THS menunjukkan bahwa dana bergulir yang dibarengi pendampingan kelembagaan dapat menjadi katalisator untuk memperkuat koperasi, memperluas akses usaha anggota, dan menciptakan ekosistem ekonomi rakyat yang berkelanjutan. Model ini diharapkan menjadi inspirasi bagi koperasi lain di berbagai daerah.

Rafi Akbar
Penulis
Rafi Akbar

Analis bisnis yang mengulas perkembangan industri, korporasi, dan peluang investasi.

Berita Terkait