Penemuan Kasus Malaria Meningkat, Surveilans Dinilai Membaik
Kementerian Kesehatan menyatakan peningkatan penemuan kasus malaria pada 2025 menunjukkan perbaikan sistem surveilans. Pernyataan itu disampaikan Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, pada Rabu, 3 Juni 2026. Pemerintah menilai temuan yang lebih banyak membantu percepatan pengobatan dan pemutusan rantai penularan.
Surveilans yang semakin kuat
Kemenkes menyebut penguatan program surveilans berhasil meningkatkan kemampuan petugas menemukan kasus yang sebelumnya tidak terdeteksi. Program ini mengandalkan surveilans aktif untuk menjaring penderita di lapangan.
Data tahun 2025 menunjukkan surveilans yang kita lakukan semakin baik, penemuan kasus juga semakin bagus. Penemuan kasus ini penting agar penderita bisa segera diobati,
Pemerintah menargetkan minimal 80 persen kasus malaria dapat ditemukan melalui kegiatan surveilans aktif. Peningkatan temuan dianggap sebagai indikator kinerja program pengendalian malaria yang membaik.
Situasi di Papua
Kementerian Kesehatan mencatat Papua masih menjadi wilayah dengan penemuan kasus malaria terbesar di Indonesia. Dari 42 kabupaten dan kota yang masih berstatus endemis, sebanyak 41 berada di Papua.
Papua memiliki banyak wilayah rawa, perairan, genangan air, serta kawasan hutan yang menjadi tempat memungkinkan bagi nyamuk Anopheles. Selain itu, faktor geografis juga menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan program hingga menjangkau daerah-daerah terpencil,
Tingginya kasus di Papua dipengaruhi kondisi geografis dan lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk penular malaria, Anopheles. Tantangan akses ke wilayah terpencil juga menyulitkan pelaksanaan kegiatan deteksi dan penanganan cepat.
Upaya deteksi dan penanganan
Untuk memperkuat penemuan kasus, pemerintah memastikan ketersediaan alat diagnostik di fasilitas kesehatan. Rapid Diagnostic Test (RDT) disiapkan agar deteksi bisa dilakukan cepat, termasuk di daerah yang sulit menjangkau laboratorium.
Peningkatan kapasitas petugas, ketersediaan RDT, dan surveilans aktif menjadi fokus agar penderita cepat mendapat pengobatan. Dengan demikian, diharapkan rantai penularan dapat diputus lebih efektif.
Ke depan, keberlanjutan program surveilans dan distribusi alat diagnostik menjadi kunci menurunkan beban malaria nasional, terutama di wilayah endemis seperti Papua.
Berita Terkait
BPOM Dorong Ketahanan Obat dan Ekonomi lewat Pekan Jamu 2026
BPOM lewat Pekan Jamu 2026 dorong ketahanan obat dan ekonomi dengan sosialisasi, riset, dan kolaborasi ABG u...
Work-Life Balance: Cara Menjaga Keseimbangan Sehari-hari
Pahami konsep work-life balance dan praktik mudah untuk membagi waktu antara pekerjaan dan kehidupan pribadi...
Kemenkes Waspadai WNI Pulang dari Kongo dan Uganda terkait Ebola
Kemenkes minta WNI yang baru kembali dari Kongo dan Uganda segera periksa diri jika demam atau perdarahan da...
Kemenkes Perketat Pengawasan Ebola di Bandara Soetta
Kemenkes perketat pengawasan di Bandara Soetta sejak 31 Mei 2026 usai WHO tetapkan darurat Ebola di Kongo; s...
Sejarah dan Makna Hari Tanpa Tembakau Sedunia 31 Mei
Hari Tanpa Tembakau Sedunia tiap 31 Mei mendorong perokok berpuasa 24 jam; inisiatif WHO ini bertujuan menek...
WHO Puji PP 28/2024, Indonesia Tingkatkan Proteksi dari Rokok
WHO memuji pengesahan PP 28/2024 yang menaikkan usia beli jadi 21 tahun dan melarang penjualan per batang un...