ISS Teliti Pneumonia di Luar Angkasa yang Rusak Jantung
Astronaut Ekspedisi 74 di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) sedang meneliti bagaimana bakteri pneumonia menyebabkan kerusakan jangka panjang pada jaringan jantung. Penelitian ini memanfaatkan kondisi mikrogravitasi di luar angkasa untuk mengamplifikasi efek infeksi pada sel jantung yang dikembangkan dari sel punca.
Metode dan alasan penelitian
Tim peneliti menginfeksi jaringan jantung hasil diferensiasi sel punca dengan bakteri penyebab pneumonia untuk mengamati respons seluler. Di lingkungan luar angkasa, bakteri diketahui menjadi lebih ganas dan lebih tahan terhadap obat, sehingga reaksi seluler yang halus di Bumi bisa terlihat lebih jelas di ISS.
Dengan pendekatan ini, para ilmuwan berharap dapat mengidentifikasi mekanisme yang memperparah infeksi dan mencari target baru untuk terapi. Kondisi unik di orbit menjadi alat eksperimen untuk mempelajari interaksi antara patogen dan jaringan manusia secara lebih intens.
Fokus: Streptococcus pneumoniae
Salah satu fokus utama adalah Streptococcus pneumoniae, bakteri yang menjadi penyebab utama pneumonia komunitas. Bakteri ini setiap tahun dikaitkan dengan angka kematian yang tinggi di berbagai kelompok usia.
Penelitian diarahkan untuk melihat bagaimana infeksi oleh bakteri ini memicu perubahan struktural dan fungsional pada sel jantung, serta mencari tanda molekuler yang dapat dijadikan sasaran terapi.
Manfaat bagi misi luar angkasa dan kesehatan di Bumi
Hasil riset diharapkan berguna ganda: melindungi kesehatan awak pada misi jangka panjang dan membuka peluang pengembangan terapi baru untuk pasien di Bumi. ISS telah menjadi laboratorium penting untuk mempelajari respons tubuh dan mikroorganisme di lingkungan mikrogravitasi.
Secara khusus, temuan dapat membantu tim medis mencegah atau menangani infeksi yang mengancam fungsi kardiovaskular astronot selama perjalanan jauh. Selain itu, wawasan baru tentang mekanisme penyakit bisa menjadi dasar pengobatan inovatif di darat.
Prospek ke depan
Penelitian ini merupakan langkah awal menuju pemahaman lebih dalam tentang bagaimana infeksi mempengaruhi organ vital di kondisi ekstrem. Jika berhasil, pendekatan yang diuji di ISS dapat mempercepat penemuan obat dan strategi pencegahan untuk pneumonia dan komplikasinya pada jantung.
Sebab itu, studi lanjutan dan uji klinis di Bumi akan diperlukan untuk menerjemahkan temuan menjadi terapi yang dapat digunakan pasien umum.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Parker Solar Probe Dekati Matahari, Capai 430 Ribu Mil/Jam
Parker Solar Probe mendekati Matahari 4 Sept 2026, melintas 6,1 juta km dan mencapai 430 ribu mil/jam sambil...
NASA Tambah Roket Terran R ke Kontrak Peluncuran NLS II
NASA menambahkan layanan peluncuran Terran R ke kontrak NLS II melalui ketentuan on-ramp, memperluas opsi pe...
Merkurius Menyusut Lebih Cepat, Inti Planet Terungkap
Merkurius menyusut 10–30% lebih cepat, dengan diameter hampir 19 km, mengungkap petunjuk baru tentang ukuran...
Telkomsat Luncurkan VSAT STAR, Jaga Konektivitas Kapal di Tengah Laut
Telkomsat meluncurkan VSAT STAR, layanan satelit hingga 200 Mbps per site untuk menjaga konektivitas kapal t...
NASA Bentuk Akademi Antariksa AS, 300 Siswa Ditargetkan 2028
NASA mulai membentuk United States Space Academy; 300 siswa pertama direncanakan menempati fasilitas sementa...
Satelit NASA Rekam Badai Debu di Mali, Partikel Meluas ke Atlantik
Satelit Terra NASA merekam badai debu di Mali pada 5 September 2026; partikel bergerak ke barat hingga Samud...