Usman Husin: Strategi Pencegahan Karhutla Harus Diperkuat
Anggota Komisi IV DPR RI Usman Husin meminta Kementerian Kehutanan memperkuat strategi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pernyataan itu disampaikan pada 8 Agustus 2026 setelah kejadian karhutla yang berulang di lokasi sama menunjukkan perlunya pendekatan mitigasi yang lebih efektif sebelum musim kemarau.
Pemetaan kawasan rawan sebagai langkah awal
Usman menilai pemerintah seharusnya memetakan kawasan rawan berdasarkan data kejadian pada tahun-tahun sebelumnya. Dengan peta risiko yang jelas, langkah antisipatif dapat dilakukan sebelum kebakaran meluas.
Menurutnya, pemetaan menjadi dasar untuk menentukan prioritas patroli dan penyiapan sumber daya pemadaman. Tanpa peta, upaya penanggulangan kerap bersifat reaktif dan kurang terfokus.
Prioritaskan pencegahan dini
Usman menegaskan pencegahan dini harus menjadi prioritas dalam strategi penanganan karhutla. Penanganan setelah api meluas dinilai tidak cukup untuk menghentikan pola kebakaran yang terus berulang.
Karhutla ini terjadi hampir setiap tahun dan bahkan di lokasi yang sama. Seharusnya Kementerian Kehutanan sudah memiliki langkah antisipasi sejak awal sehingga kebakaran bisa dicegah sebelum meluas
Dengan menekankan pencegahan, sumber daya negara dapat dipakai lebih efisien dan dampak lingkungan serta kesehatan masyarakat dapat ditekan.
Perkuat koordinasi lintas lembaga
Usman meminta koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan instansi terkait diperkuat. Sinergi diperlukan untuk memetakan kawasan rawan, meningkatkan patroli, serta menyiapkan langkah mitigasi sebelum puncak musim kemarau.
Kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh instansi terkait harus diperkuat. Pencegahan sejak dini jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah kebakaran terjadi
Koordinasi ini mencakup pengaturan pembagian tugas, alokasi anggaran, dan pertukaran data lapangan sehingga respons bisa cepat dan terarah.
Operasi Modifikasi Cuaca dan evaluasi wilayah rawan
Sebelumnya pemerintah melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Sumatra Selatan untuk menekan potensi karhutla selama musim kemarau. Kegiatan hujan buatan itu dimulai pada 4 Agustus 2026 dan berlangsung hingga 10 Agustus 2026.
Om mulai dilaksanakan sejak Selasa, 4 Agustus 2026. Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari BNPB dan direncanakan berlangsung hingga 10 Agustus 2026
Usman mengapresiasi langkah itu sebagai bagian dari upaya pengendalian, namun menegaskan OMC hanya boleh menjadi pelengkap dalam kondisi darurat. Ia mendesak evaluasi menyeluruh pada daerah yang berulang menjadi titik rawan untuk menghasilkan strategi penanganan yang lebih terarah.
Pencegahan dini dan koordinasi lintas lembaga menjadi kunci agar kebakaran hutan dan lahan tidak terus berulang setiap musim kemarau. Usman menekankan perubahan strategi dari reaktif menjadi proaktif agar dampak ekonomi, lingkungan, dan kesehatan masyarakat dapat diminimalkan ke depan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Kemenbud Usulkan Tari Zapin ke UNESCO untuk Perkuat Pelestarian
Kementerian Kebudayaan mengusulkan Tari Zapin ke UNESCO (29 Sept 2026) untuk memperkuat pelestarian lintas g...
Korlantas Buka Layanan Blokir ETLE di Samsat Seluruh Indonesia
Korlantas membuka layanan pengurusan blokir ETLE langsung di Samsat mulai 30 September 2026 untuk memudahkan...
STNK Digital Resmi Berlaku, Pengendara Tak Perlu Bawa STNK Fisik
Korlantas luncurkan STNK Digital lewat aplikasi Digital Korlantas; dokumen elektronik ini setara hukum denga...
Basarnas Alihkan Pencarian Jurnalis ke Operasi SAR Rutin
Basarnas tetap melanjutkan pencarian lima jurnalis lewat operasi SAR rutin; pencarian berlangsung 24 jam ses...
Wamensos Dorong Pembangunan Sekolah Rakyat di Pekalongan
Wamensos mendorong percepatan pembangunan Sekolah Rakyat di Pekalongan; Pemkab sediakan lahan 8,1 ha untuk m...
Menko Pangan Tawarkan Insentif Karbon untuk Investor Hijau
Menko Pangan Zulkifli Hasan tawarkan insentif pasar karbon untuk tarik investasi hijau di sektor pangan, sam...