Nasional

Basarnas Perluas Pencarian KM Arupadhatu 1 Hari ke-10

Bagikan:
Operasi pencarian Basarnas di Selat Sunda dengan kapal dan helikopter

Basarnas memperluas area pencarian lima jurnalis dan tiga awak KM Arupadhatu 1 yang hilang kontak di Selat Sunda pada hari ke-10 operasi. Pencarian kini mencakup luas 8.509 mil laut yang dibagi menjadi 10 sektor berdasarkan prediksi SARMEP untuk memperkirakan pergeseran posisi kapal dan korban.

Perluasan area berdasarkan prediksi SARMEP

Kepala Sub-Seksi Operasi dan Siaga Basarnas Banten, Rizky Dwianto, menjelaskan alasan perluasan area. Tim menggunakan hasil SARMEP untuk menentukan kemungkinan pergeseran kapal dan penumpang yang dicari.

Untuk fokus di area pencarian kami memang menyesuaikan hasil dari SARMEP yang kami buat. Dari 10 sektor itu ada kemungkinan kapal beserta penumpang yang kita cari akan bergeser

Kekuatan dan metode operasi

Basarnas menerjunkan total 24 kapal dari berbagai unsur untuk menyisir area pencarian yang diperluas. Selain itu, dukungan udara ditambah untuk meningkatkan cakupan visual di lapangan.

  • 8 kapal TNI Angkatan Laut
  • 8 kapal Polairud
  • 7 kapal Basarnas
  • 1 kapal KPLP

Helikopter Dauphin HR 3604 juga dikerahkan sebagai tambahan pencarian visual pada hari ke-10. Selain armada di Banten, Kantor SAR Bengkulu menambah dua unit armada, termasuk KN 213 dan satu RIB.

Untuk hari ini itu kita penambahan untuk pencarian visual udara menggunakan helikopter. Strategi pencarian dari H1 sampai H10 tetap sama, hanya hari ini ada penambahan pencarian visual udara

Hasil sementara dan koordinasi identifikasi

Seluruh area yang masuk prediksi SARMEP sudah disisir, namun hingga hari ke-10 belum ditemukan tanda-tanda keberadaan KM Arupadhatu 1 maupun penumpangnya. Barang-barang yang ditemukan selama operasi telah diserahkan ke kepolisian untuk identifikasi.

Hasil identifikasi menyatakan barang-barang tersebut bukan berasal dari kapal yang sedang dicari. Tim SAR tetap mencatat dan mengkoordinasikan setiap temuan untuk memastikan proses investigasi berjalan tertib.

Cuaca, Gunung Anak Krakatau, dan pemantauan wilayah

Kondisi cuaca menjadi pertimbangan operasional. BMKG melaporkan cuaca berawan dengan angin 10-20 knot dan tinggi gelombang 0,5-3,5 meter, yang memengaruhi pola penyisiran kapal dan helikopter.

Untuk aktivitas Gunung Anak Krakatau kami setiap harinya selalu mengupdate dan berkomunikasi dengan rekan-rekan PVMBG. Status Anak Gunung Krakatau adalah level tiga siaga dan sampai saat ini erupsi tidak terjadi

Basarnas terus berkoordinasi dengan PVMBG karena status Gunung Anak Krakatau berada pada level tiga atau siaga. Tim gabungan memantau situasi gunung dan kondisi laut secara berkala.

Evaluasi operasi dan tindak lanjut

Setelah perpanjangan masa pencarian, Basarnas akan menggelar evaluasi bersama keluarga korban, tim pencarian, dan pemerintah daerah untuk menentukan kelanjutan operasi. Jika operasi utama dihentikan, pemantauan tetap dilakukan di perairan sekitar Selat Sunda.

Kami akan melakukan monitoring dan berkoordinasi dengan stakeholder terkait di sekitar pesisir Carita, Anyer, Ujung Kulon sampai Panaitan. Jika ada yang melihat ataupun menemukan kapal yang kami cari, informasi akan dilaporkan ke Kantor SAR Banten

Basarnas juga akan menyebarkan informasi melalui Vessel Traffic Service agar kapal yang melintas dapat melaporkan tanda-tanda yang ditemukan. Dukungan dan doa masyarakat terus diharapkan untuk membantu upaya pencarian.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait