Aceh Besar Ajak Semua Pihak Bersinergi Tangani AIDS, TBC, dan Malaria
KOTA JANTHO — Pemerintah Kabupaten Aceh Besar menegaskan upaya pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS, tuberkulosis (TBC), dan malaria tidak bisa hanya dibebankan pada sektor kesehatan. Pernyataan itu disampaikan Wakil Bupati Aceh Besar, Drs. Syukri A. Jalil, saat membuka Forum Kemitraan untuk Pencegahan dan Pengendalian Penyakit ATM pada Rabu, 8 Juli, di Gedung Dekranasda Gampong Gani, Kecamatan Ingin Jaya.
Ajakan kolaborasi lintas sektor
Wakil Bupati menekankan perlunya keterlibatan semua elemen, mulai pemerintah daerah hingga masyarakat. Menurutnya, keberhasilan penanggulangan penyakit menular bergantung pada sinergi antarinstansi dan sektor nonkesehatan.
Indonesia berada di peringkat kedua setelah India sebagai negara dengan jumlah kasus TBC yang tinggi. Karena itu, pemerintah menjadikan penanggulangan AIDS, TBC, dan malaria sebagai program prioritas yang harus dilaksanakan secara bersama-sama.
Penanggulangan tiga penyakit ini bukan hanya tugas Dinas Kesehatan. Semua elemen harus terlibat, termasuk pemerintah daerah, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, dan semua elemen masyarakat.
Peran dunia usaha dan CSR
Forum dihadiri perwakilan sejumlah perusahaan yang beroperasi di Aceh Besar. Kehadiran mereka dinilai penting karena dunia usaha dapat mendukung program kesehatan melalui corporate social responsibility (CSR).
Hari ini kita melihat komitmen dunia usaha dengan hadirnya berbagai perusahaan. Jika memungkinkan, program CSR perusahaan dapat diarahkan untuk mendukung penanggulangan AIDS, TBC, dan malaria di Aceh Besar.
Perusahaan yang hadir antara lain PT Solusi Bangun Andalas (SBA), Angkasa Pura, PDAM Tirta Mountala, Bank Aceh, serta unsur Palang Merah Indonesia (PMI) Aceh Besar.
Dukungan pendanaan dan apresiasi
Syukri menyebut upaya Kabupaten Aceh Besar mendapat perhatian dari pemerintah pusat dan lembaga donor. Kabupaten ini masih menerima dukungan pendanaan, bersama Kota Banda Aceh dan Kabupaten Pidie.
Tahun lalu kita memperoleh penghargaan, dan sampai sekarang Aceh Besar masih menjadi salah satu daerah yang mendapatkan perhatian dari pihak pendonor. Ini harus menjadi motivasi bagi kita untuk terus meningkatkan kinerja dalam pengendalian penyakit.
Peserta forum dan harapan ke depan
Pertemuan juga dihadiri Asisten I Sekretariat Daerah Aceh Besar, Farhan, AP, serta sejumlah kepala organisasi perangkat daerah seperti Dinas Kesehatan, Bappeda, Dinas Sosial, Baitul Mal, dan camat setempat. Forum ini dimaksudkan untuk memperkuat kemitraan dalam aksi pencegahan dan pengendalian penyakit menular.
Wakil Bupati berharap forum tidak sekadar seremonial, melainkan menghasilkan komitmen nyata dan langkah koordinatif untuk menekan angka kasus. Penanggulangan ATM harus menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas sektor kesehatan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
DPRK Menang 2-1 atas Pemkab Aceh Besar di Meunasah Krueng
DPRK Aceh Besar menundukkan Pemkab Aceh Besar 2-1 pada laga persahabatan 22 Agustus 2026 di Meunasah Krueng.
Muzakkir Minta Amran Jelaskan Realisasi Rp2,5 Triliun untuk Rehabilitasi Lahan Aceh
Prof. Muzakkir minta Menteri Pertanian jelaskan transparansi realisasi Rp2,5 triliun bantuan rehabilitasi la...
Ngatiman Terpilih Aklamasi Ketua PMI Kota Langsa 2026-2031
Ngatiman terpilih aklamasi sebagai Ketua PMI Kota Langsa 2026-2031; Pemko janji dukungan anggaran Rp100 juta...
Pemprov Sumut Diminta Atur Kewenangan dan Anggaran Bangun Rumah Korban
Pengamat minta Pemprov Sumut tetapkan kewenangan, sumber anggaran, dan verifikasi sebelum membangun 167 ruma...
PTPN IV Tanam 248 Pohon dan Lepas 2.310 Satwa di Aceh Timur
PTPN IV Regional VI menanam 248 pohon dan melepas 2.310 satwa di Aceh Timur untuk dukung program Tanam 1,5 J...
Polres Pematangsiantar Sosialisasikan Program AI di SMAN 4
Polres Pematangsiantar mensosialisasikan program AI kepada siswa SMAN 4 Siantar pada 21 Agustus; 30 siswa me...