Nasional

Pelemahan Rupiah Dongkrak Daya Saing Pariwisata Indonesia

Bagikan:
Ilustrasi pariwisata dengan latar uang rupiah dan wisatawan di destinasi

Pelemahan nilai tukar rupiah membuka peluang bagi sektor pariwisata Indonesia karena membuat negara ini lebih terjangkau bagi wisatawan mancanegara. Kondisi ini terjadi pada awal Juni 2026 dan dipandang dapat memperkuat daya tarik destinasi nasional jika didukung faktor lain seperti keamanan dan stabilitas.

Peluang bagi pariwisata

Asosiasi Perjalanan Wisata menilai pelemahan rupiah meningkatkan purchasing power wisatawan asing saat berkunjung ke Indonesia. Biaya liburan yang relatif lebih murah membuat destinasi Tanah Air menjadi pilihan menarik bagi wisatawan dari luar negeri.

Meski demikian, asosiasi mengingatkan bahwa peningkatan kunjungan tidak otomatis terjadi hanya karena nilai tukar. Pertumbuhan masih bersifat terbatas dan perlu dukungan promosi serta layanan yang memadai.

"Karena bagi mereka Indonesia menjadi lebih murah. Namun peningkatan kunjungan tidak terjadi secara otomatis," kata Budijanto Ardiansjah, Sekretaris Jenderal Asosiasi Perjalanan Wisata Indonesia, dalam perbincangan pada Rabu, 3 Juni 2026.

Pasar utama dan tren kunjungan

Data asosiasi menunjukkan kunjungan masih didominasi wisatawan dari kawasan Asia. Negara-negara seperti Malaysia, Australia, Tiongkok, India, dan Singapura menjadi pasar utama yang memberikan kontribusi signifikan.

  • Malaysia
  • Australia
  • Tiongkok
  • India
  • Singapura

Beberapa destinasi internasional merasakan dampak positif lebih cepat, terutama yang sudah memiliki infrastruktur kuat dan konektivitas mudah.

Tantangan bagi pelaku usaha

Sementara itu, kalangan hotel dan restoran menyoroti sisi negatif pelemahan rupiah. Kenaikan biaya operasional menjadi beban yang harus dikelola oleh pelaku usaha pariwisata.

"Pelemahan rupiah menjadi daya tarik wisatawan mancanegara. Mereka merasa bisa membelanjakan lebih banyak saat berwisata," ujar Maulana Yusran, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia.

Studi lapangan menunjukkan dampak positif lebih cepat terasa di Bali, Jakarta, dan Batam, namun kenaikan harga input usaha masih menekan margin profit di banyak tempat.

Implikasi dan prospek

Untuk memaksimalkan peluang, penting menjaga keamanan dan stabilitas sebagai faktor penentu persepsi wisatawan. Promosi yang tepat dan peningkatan kualitas layanan juga dibutuhkan agar kunjungan meningkat nyata, bukan hanya sementara.

Secara umum, pelemahan rupiah memberi kesempatan memperkuat daya saing pariwisata Indonesia. Namun pemerintah dan pelaku usaha harus bersinergi untuk mengatasi tantangan biaya operasional agar manfaatnya berkelanjutan.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait