Gaya Hidup

Paviliun Indonesia di Venice Biennale 2026 Tampilkan Seni Cetak Grafis

Bagikan:
Instalasi Paviliun Indonesia di Venice Biennale 2026 menampilkan karya etsa dan grafis

Paviliun IndonesiaPrinting the Unprinted. Pameran ini menampilkan karya seni cetak grafis dari tujuh perupa lintas generasi dan berlangsung di Scuola Internazionale di Grafica, Venesia. Inisiatif ini digagas oleh Kementerian Kebudayaan bekerja sama dengan Danantara Indonesia Trust Fund dan dikuratori oleh Aminudin TH Siregar sebagai bagian dari diplomasi kebudayaan.

Pameran dan konsep

Pameran mengangkat narasi epik pelayaran besar abad ke-15 yang diciptakan ulang secara imajinatif. Para seniman merujuk pada sebuah manuskrip fiksi berjudul Printing the Unprinted: The Story of the Grand Voyage yang memuat serangkaian etsa, gambar, sketsa, dan teks sebagai sumber inspirasi.

Petualangan armada digambarkan bergerak dari Danau Toba menuju Venesia lewat Malaka, Teluk Benggala, Gujarat, Hormuz, Laut Merah, dan Aleksandria. Armada itu terdiri dari tiga kapal utama: Siboru Deak Parujar sebagai kapal induk, Naga Padoha sebagai kapal pengawal, dan Sahala ni Ombak untuk penjelajahan ilmiah.

Kisah, struktur narasi, dan tokoh imajiner

Narasi dipandang melalui kacamata seorang arsiparis imajiner, Datu Na Tolu Hamonangan dari Harajaon Pusuk Buhit. Manuskrip yang menjadi pegangan pameran menyimpan kumpulan etsa yang menunggu untuk ditemukan dan dimaknai oleh penonton. Secara tematis, pameran menampilkan rangkaian cerita tentang kekuasaan, navigasi, peta, flora-fauna, masyarakat, teknologi, dan refleksi spiritual.

Peran para perupa

Setiap perupa menafsirkan babak berbeda dalam kisah perjalanan tersebut. Berikut perincian seniman dan karya utama yang dipamerkan:

  • Agus Suwage — menghidupkan tema Sacred Authority and Diplomacy melalui tiga etsa: The Oath at Pusuk Buhit, Audience at the Republic of Batu, dan Return to the Mountain of Origin.
  • R.E. Hartanto — merepresentasikan Sea Power and Navigation lewat tiga lembar etsa: Departure Under the Southwest Monsoon Wind (1472), Storm Off Hormuz, dan The Aging Admiral’s Face.
  • Syahrizal Pahlevi — menggarap Maps and Astronomy, termasuk Rewriting the Circle of the World, Library of Florence, dan The Inversion of the World Map.
  • Rusyan Yasin — menggambarkan Flora and Fauna melalui Camphor Specimens and Andalas Wood, Encounters in the Alps, dan Garden of Two Climates.
  • Mariam Sofrina — mengilustrasikan Faces and Culture dengan Port of Malacca, Winter Market in Venice, dan West Gorga.
  • Nurdian Ichsan — mengeksplorasi Technology and Symbolism lewat Forging Iron at Lake Toba, Glass and Mechanical Clocks, serta The Hybrid Emblem of Harajaon.
  • Theresia Agustina Sitompul — mengangkat Spiritual Reflection dengan Pre-Departure Ritual, Cathedral and the Echo of Gondang, dan Return to Silence.

Pesan diplomasi budaya

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan bahwa kehadiran Paviliun Indonesia di Venesia merupakan momentum penting untuk memperkuat posisi seni rupa Indonesia di panggung internasional. Ia menekankan peran budaya sebagai fondasi masa depan serta modal untuk ikut membentuk percakapan global melalui seni.

"Kami meyakini bahwa budaya bukan sekadar warisan, tetapi juga fondasi bagi masa depan. Indonesia hadir bukan hanya untuk memperkenalkan kebudayaan kepada dunia, tetapi juga untuk ikut membentuk percakapan global melalui seni,"

Pameran ini juga merefleksikan keragaman Indonesia—dengan pulau, etnis, dan bahasa yang beragam—sebagai hasil panjang pertukaran maritim, tradisi spiritual, dan inovasi artistik.

Penutup

Melalui Printing the Unprinted, Paviliun Indonesia menawarkan narasi ulang sejarah maritim yang menghubungkan Nusantara dan Eropa. Pameran tidak hanya menampilkan keahlian teknis seni grafis, tetapi juga memancing diskusi tentang identitas, pertukaran budaya, dan makna penemuan dalam perspektif global.

Penemuan bukanlah kepemilikan, melainkan pengakuan bahwa seluruh daratan terjalin dalam satu dunia.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait