Lokal

MicroMagFeed: Pakan Maggot Mandiri Capai FCR 1,28 di Serdang Bedagai

Bagikan:
Diagram alur produksi pakan MicroMagFeed dari limbah organik menjadi pelet nutrisi

Bukan sekadar mengganti tepung ikan — ada proses mikroenkapsulasi dan validasi biologis di baliknya.

Teluk Mengkudu, Sumut — Kelompok pembudidaya ikan Pokdakan Teratai Baru mengembangkan MicroMagFeed, pakan mandiri berbasis larva Black Soldier Fly (BSF), yang diuji secara ilmiah pada 2026. Produksi pakan dibuat dari limbah organik desa, diformulasi khusus, dan melewati uji 60 hari pada ikan nila; hasil awal menunjukkan Feed Conversion Ratio (FCR) 1,28 dan Survival Rate (SR) 87 persen.

Produksi pakan berbasis maggot di Desa Pasar Baru

Di Desa Pasar Baru, kotak biopond berisi larva BSF memproses sisa sayur, ampas tahu, dan limbah dapur menjadi biomassa berprotein tinggi. Larva ini memiliki profil asam amino yang mendekati tepung ikan dan kandungan protein kering di atas 40 persen.

Pokdakan Teratai Baru memanfaatkan biomassa itu sebagai bahan baku pakan untuk menekan biaya produksi, sekaligus mengurangi limbah organik lokal.

Formulasi dan proses produksi

Tim pengabdian merancang formulasi yang bukan sekadar mencampur bahan; pakan MicroMagFeed mengandung sekitar 30 persen tepung maggot, dedak, tepung ikan, dan premix vitamin-mineral. Proporsi ini dipilih untuk mengendalikan kadar kitin agar daya cerna ikan tidak menurun.

Bahan baku dicetak menjadi pelet dengan mesin ekstrusi, lalu dikeringkan menggunakan proses roasting bersuhu terkontrol untuk menonaktifkan enzim dan mikroba serta menjaga kestabilan kadar air. Hasil analisis proksimat menunjukkan kadar protein pelet konsisten 30 632 persen, setara pakan komersial.

Teknologi mikroenkapsulasi untuk pakan larva

Pokdakan sedang mengembangkan tahap lanjutan berupa teknologi mikroenkapsulasi. Proses ini membungkus partikel nutrisi mikro dengan lapisan pelindung sehingga nutrisi tidak mudah rusak oleh panas atau larut di air sebelum dicerna ikan, sangat berguna untuk pakan larva ikan dengan bukaan mulut kecil.

Validasi biologis: hasil feeding trial

Untuk menguji efektivitas, tim melakukan feeding trial terkontrol selama 60 hari pada ikan nila. Dua indikator utama diukur: FCR dan SR. FCR mengukur efisiensi pakan, sedangkan SR menunjukkan keselamatan dan kecukupan nutrisi.

Uji menunjukkan FCR 1,28 dan SR 87 persen, mendekati standar komersial yang umumnya menargetkan FCR < 1,2 dan SR > 90 persen. Tim menyatakan hasil awal ini menjanjikan untuk pengembangan lebih lanjut.

"Pakan MicroMagFeed yang kami kembangkan mengandung sekitar 30 persen tepung maggot, dipadukan dengan dedak, tepung ikan, dan premix vitamin-mineral," ujar Dwi Tika Afriani.

"Capaian FCR 1,28 dan SR 87 persen pada uji pertama ini justru menunjukkan potensi besar pakan berbasis maggot," tambahnya.

Kendala operasional dan prospek skala

Produksi pakan meningkat dari 80 6100 kg menjadi sekitar 140 kg per bulan. Namun utilisasi mesin baru mencapai 68 persen karena keterbatasan operator terlatih untuk menambah shift produksi.

"Biaya pakan itu paling besar makan biaya produksi kita. Kalau bisa produksi sendiri meski belum 100 persen, itu sudah menekan pengeluaran," kata Muhammad Suhairi, Ketua Pokdakan Teratai Baru.

Program ini dirancang sebagai roadmap tiga tahun: fondasi teknologi tahun pertama, optimalisasi dan validasi mutu tahun kedua, serta penguatan skala, sertifikasi, dan mikroenkapsulasi pada tahun ketiga. Model ini berpotensi direplikasi pada kelompok pembudidaya lain yang menghadapi harga pakan tinggi dan limbah organik belum termanfaatkan.

Ringkasan capaian Tahun II

Indikator Hasil
Produksi pakan per bulan (sebelum) 80 6100 kg
Produksi pakan per bulan (saat ini) ~140 kg
Utilisasi mesin 68 persen
Kandungan protein pakan 30 632 persen
Proporsi tepung maggot ~30 persen
Feed Conversion Ratio (FCR) 1,28
Survival Rate (SR) 87 persen

Program ini dibiayai oleh Program Pemberdayaan Berbasis Kewilayahan dari Direktorat Pengelolaan Program Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat Kemdiktisaintek pada 2026. Hasil awal memberi dasar kuat untuk siklus uji lanjutan menuju standar pakan komersial dan replikasi model di desa lain.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait