MASSA AKSI Laporkan PT Sijabut atas Penguasaan 362,4 Ha di Asahan
KISARAN — Kelompok Mahasiswa Asahan Anti Korupsi (MASSA AKSI) melaporkan PT Sijabut ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Asahan pada Senin (7/9). Laporan bernomor 10/LA-MA/KS/IX/2026 menuduh perusahaan menguasai lahan perkebunan kelapa sawit seluas 362,4 hektare di Desa Pulau Pule, Kecamatan Air Batu, Kabupaten Asahan, tanpa kepemilikan Hak Guna Usaha (HGU) yang sah.
Isi laporan dan permintaan pemeriksaan
MASSA AKSI meminta Kejari Asahan melakukan penyelidikan awal dan menelusuri status hak atas tanah tersebut. Dalam petitum, mereka menuntut pemeriksaan dokumen dan kewajiban keuangan perusahaan terkait pajak dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Kelompok ini juga mendesak agar kasus dinaikkan ke penyidikan bila ditemukan bukti permulaan cukup. Beberapa pihak diminta diperiksa untuk mengungkap status hukum lahan dan kemungkinan kerugian negara.
- Direksi PT Sijabut
- Kepala Kantor Pertanahan Asahan
- Kanwil BPN Sumatera Utara
- DPMPTSP Asahan
- Dinas Pertanian Asahan
- Ahli waris terkait
Temuan dokumen dan dugaan legalitas
MASSA AKSI menyatakan PT Sijabut menjalankan aktivitas komersial di lahan tersebut selama puluhan tahun. Namun hasil klarifikasi ke DPMPTSP dan Dinas Pertanian Asahan menunjukkan nama PT Sijabut tidak tercatat memiliki HGU.
Perusahaan diduga hanya mengandalkan surat dari Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sumut, Nomor 540.1-802/5/92 tanggal 11 Mei 1992. MASSA AKSI menilai surat itu bukan sertifikat kepemilikan, melainkan rekomendasi bersyarat.
"Tanah seluas 362,4 hektare itu diduga dikuasai PT Sijabut tanpa dasar hukum HGU yang sah. Ini berpotensi merugikan negara,"
"HGU baru dinyatakan sah jika sudah terbit Surat Keputusan (SK) dan Sertifikat HGU resmi dari BPN. Jika dokumen itu tidak ada, maka status lahan tersebut secara hukum tetap merupakan Tanah Negara,"
Langkah tindak lanjut dan tembusan
Dalam laporannya, MASSA AKSI meminta Kejari menelusuri warkah tanah di BPN dan mengaudit kewajiban perpajakan perusahaan. Jika terbukti ada pelanggaran, mereka menuntut proses hukum dilanjutkan.
Laporan itu juga ditembuskan ke sejumlah instansi untuk pengawasan lebih lanjut:
- JAMPIDSUS Kejaksaan Agung
- Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara
- Menteri Agraria dan Tata Ruang/BPN
- Bupati dan DPRD Asahan
Kasus ini akan menentukan apakah penguasaan lahan di Desa Pulau Pule tetap berstatus Tanah Negara atau beralih menjadi HGU yang sah setelah verifikasi dokumen resmi oleh BPN dan pemeriksaan aparat penegak hukum.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Verifikasi PUG Aceh 2025: IPG 93,11 Melampaui Rata-Rata Nasional
Pj Sekda Aceh pimpin verifikasi PUG 2025 di Banda Aceh; IPG Aceh naik ke 93,11 dan melampaui rata-rata nasio...
TPAK Perempuan Aceh 45,5%: Perhatian pada Kesehatan Psikososial
TPAK perempuan Aceh 45,50% (Februari 2026); tekanan psikososial dan perlindungan kerja perlu diperkuat untuk...
Wabup Aceh Besar Serukan Disiplin Lalu Lintas saat Operasi Patuh 2026
Wabup Aceh Besar ajak warga tingkatkan disiplin lalu lintas saat Operasi Patuh Seulawah 2026 berlangsung 26...
Kejari Medan Kembalikan Berkas Ledakan, Jalan Dairi Dipersoalkan
Kejari Medan kembalikan berkas ledakan rumah ke penyidik (status P-19); Distrik Dairi soal proyek jalan; ban...
Terdakwa Indra Nasution Diduga Perantara Jual Beli Sabu di Medan
Indra Nasution ditangkap polisi menyamar saat diduga menjadi perantara jual beli sabu; jaksa menjeratnya den...
Porprovsu 2026 Ditunda ke 1-9 Desember, Alasan Belum Jelas
Porprovsu 2026 bergeser ke 1-9 Desember, KONI Sumut belum merinci alasan dan kesiapan anggaran meski menyata...