DPRD Minta Diskominfo Optimalkan 7 Videotron Sebelum Tambah Unit
Malang — DPRD Kabupaten Malang meminta Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) mengoptimalkan tujuh unit videotron yang sudah dimiliki sebelum mengajukan pengadaan baru. Permintaan itu disampaikan seiring kekhawatiran bahwa aset yang ada belum memberi kontribusi pendapatan, namun terus membebani APBD. Pernyataan itu juga disampaikan oleh Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan, Redam Guruh Krismantara Bisowarno, Rabu (12/6/2026).
Biaya operasional yang membebani
DPRD mencatat biaya listrik untuk masing-masing videotron mencapai sekitar Rp1,3 juta hingga Rp2,2 juta per bulan. Salah satu contoh yang disorot adalah videotron di perempatan Pasar Kepanjen yang menghabiskan sekitar Rp26 juta per tahun, dengan jam operasional terbatas sekitar lima jam sehari (pukul 12.00–17.00 WIB).
Menurut DPRD, angka tersebut menunjukkan beban biaya yang signifikan, terutama di masa kebijakan efisiensi anggaran. Karena itu DPRD meminta evaluasi menyeluruh sebelum ada rencana penambahan unit.
Dorongan untuk monetisasi dan kerja sama pihak ketiga
Wakil DPRD menilai lokasi videotron yang berada di titik strategis memiliki potensi komersial bila dikelola profesional. Pengelolaan yang baik bisa membuka peluang kerja sama dengan pihak swasta untuk penayangan iklan atau konten berbayar.
"Semestinya Kominfo bisa menggandeng pihak ketiga agar bisa dipakai bayar tokennya tiap bulan, bukan dibebankan ke APBD. Kalau seperti itu terus, mending videotron itu dihilangkan saja,"
Redam menekankan, pendapatan dari kerja sama penayangan dapat menutup biaya listrik dan operasional, sekaligus memberikan kontribusi bagi daerah. Saat ini, sebagian besar layar dinilai hanya dipakai untuk sosialisasi internal pemerintah, seperti imbauan pembayaran PBB.
"Ibaratnya, Dinas Kominfo sudah dikasih kail dan umpannya. Masak untuk dapat ikan, harus disuapi juga?"
Evaluasi aset sebagai langkah awal
DPRD mendorong Diskominfo melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tujuh videotron yang beroperasi. Evaluasi diminta mencakup lokasi, tingkat pemanfaatan, jam operasional, biaya listrik, serta peluang kerja sama dengan pihak ketiga.
"Evaluasi dulu aset yang ada. Kalau memang produktif dan dibutuhkan, baru bicara penambahan. Jangan sampai pengadaan baru justru menambah beban pemeliharaan APBD,"
Selain DPRD, LSM Pro Desa sebelumnya juga meminta audit dan evaluasi efektivitas belanja modal terkait videotron. DPRD menegaskan bukan menolak pemanfaatan teknologi informasi, melainkan menuntut perencanaan dan pemanfaatan yang jelas agar aset menjadi produktif dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Dengan optimisasi dan monetisasi, DPRD berharap videotron tak sekadar menjadi aset visual pemerintah, tetapi juga sumber pendapatan yang menekan beban APBD dan mendukung layanan publik yang lebih berkelanjutan.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
Bimtek SVLK di Banyuwangi: Dorong Legalitas dan Kelestarian Hutan
Anggota DPR Sonny Danaparamita dorong KTH, industri, dan UMKM kayu di Banyuwangi memahami SVLK untuk legalit...
Wakil Ketua DPRD Jember Tolak Pinjaman Rp786 M untuk 2027
Wakil Ketua DPRD Jember Widarto menilai pinjaman Rp786 miliar tidak perlu; PAD, dana transfer pusat, dan SiL...
Bupati Kediri Merampingkan OPD untuk Efisiensi dan Selesaikan Jabatan Plt
Bupati Kediri merampingkan OPD lewat Raperda perubahan untuk efisiensi, menuntaskan jabatan Plt, dan menyesu...
DPRD Malang Dorong Angkot Jadi Feeder Resmi Trans Jatim
Ketua DPRD Malang mendorong angkot jadi feeder resmi Trans Jatim agar layanan menjangkau permukiman dan menj...
PDI Perjuangan Usulkan 5 Langkah Cegah Gelombang PHK di Jatim
PDI Perjuangan usulkan lima langkah: peringatan dini, pemetaan 4.400 pekerja, dan transformasi 16 BLK untuk...
Banteng DKI Menang 1-0 atas Banteng Jateng di Soekarno Cup 2026
Banteng DKI Jakarta menang 1-0 atas Banteng Jateng FC di Soekarno Cup 2026, Selasa 11 Agustus di Gresik; Far...