OJK Perketat Tata Kelola Pemeringkat Kredit Alternatif
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperketat pengawasan dan tata kelola pemeringkat kredit alternatif melalui penerbitan Peraturan OJK Nomor 29 Tahun 2024. Kebijakan ini diumumkan saat diskusi di Menteng, Jakarta, Kamis, 30 Juli 2026, sebagai upaya melindungi data konsumen sekaligus memberi kepastian hukum bagi penyelenggara.
Tujuan dan ruang lingkup regulasi
Peraturan baru menekankan keseimbangan antara inovasi jasa keuangan dan perlindungan data pribadi. Aturan ini memberi kerangka tata kelola bagi penyelenggara yang mengembangkan alternative credit scoring berbasis data nontradisional.
Pengawasan dan jenis data yang dipakai
OJK menilai perlu ada peningkatan standar karena penilaian kredit kini memanfaatkan data transaksi digital harian. Data telekomunikasi dan transaksi e-commerce menjadi bagian dari input skor kredit.
"OJK telah mentransformasikan Pemeringkat Kredit Alternatif menjadi aktivitas berstandar matang serta terawasi,"
- Adi Budiarso, Kepala Eksekutif Pengawas IAOT OJK
Pengawasan ketat bertujuan mencegah penyalahgunaan data pribadi dan memastikan metode pemeringkatan transparan dan akuntabel.
Respons industri dan perkembangan pendaftaran
Hingga Juli 2026, delapan lembaga pemeringkat kredit alternatif telah resmi terdaftar di OJK. Peningkatan jumlah pendaftar menunjukkan kepercayaan sektor keuangan terhadap keamanan tata kelola data alternatif.
Perhatian khusus pada inklusi dan bias gender
Perwakilan Women's World Banking menilai regulasi ini mendukung inklusi keuangan. Mereka mendorong pendekatan yang sensitif gender agar penilaian tidak membahayakan kelompok rentan, khususnya perempuan.
"Kami menggunakan pendekatan Women Centered Design guna memitigasi bias gender dalam penilaian kredit,"
- Vitasari Anggraeni, Direktur Kebijakan Wilayah Asia Tenggara, Women's World Banking
Organisasi tersebut bersama pelaku industri menyiapkan uji coba pemanfaatan data perilaku (pattern behavior) dengan prinsip perlindungan data konsumen yang ketat.
Implikasi bagi UMKM dan akses pembiayaan
- Regulasi dapat mempercepat penetrasi pembiayaan bagi pelaku UMKM di daerah.
- Alternatif skor kredit membuka peluang akses bagi masyarakat tanpa rekening bank.
- Standar tata kelola yang baik diharapkan menumbuhkan kepercayaan calon debitur.
Sinergi antara regulator dan penyedia teknologi menjadi kunci terciptanya ekosistem keuangan digital yang sehat. Dengan pengawasan yang andal, layanan alternatif ini diharapkan mendorong inklusi keuangan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan tanpa mengorbankan privasi konsumen.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...