BPDP Salurkan Insentif Rp240 Triliun untuk Program Biodiesel
Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) telah menyalurkan insentif sebesar Rp240 triliun untuk program biodiesel pada periode 2015-2025. Penyaluran itu setara dengan 83,8 juta kiloliter minyak sawit dan diumumkan dalam Media Briefing di Pangkalan Bun, 31 Juli 2026.
Besaran penyaluran dan periode
Penyaluran insentif dilakukan sepanjang sepuluh tahun, dari 2015 hingga 2025. Angka volume dan nilai yang disampaikan BPDP menunjukkan dukungan fiskal yang besar untuk implementasi campuran bahan bakar nabati.
Dampak ekonomi dan penghematan devisa
Menurut BPDP, program biodiesel membantu mengurangi impor bahan bakar fosil sehingga berdampak pada penghematan devisa. BPDP mengestimasi penghematan devisa nasional mencapai Rp722,9 triliun.
BPDP juga menyatakan bahwa penerapan B50 saja telah menghasilkan penghematan sebesar Rp179 triliun, sementara perhitungan lain yang disampaikan saat peluncuran menyebut potensi penghematan sekitar Rp170 triliun.
Keterangan dari BPDP
"Pemenuhan kebutuhan bahan bakar nabati Biodiesel-sekarang sudah program B50-Itu sudah 240 triliun yang disalurkan. Total penyaluran sebanyak 83,8 juta kiloliter,"
"Dan dari program ini, negara menghemat devisa sebesar Rp722,9 triliun,"
"Kalau sekarang sudah B50, hasil kajian selanjutnya mungkin akan ada B60, B70 yang kadar minyak nabatinya lebih tinggi,"
"BPDP siap mendukung program biodiesel pemerintah,"
Kutipan tersebut disampaikan oleh Direktur Keuangan, Umum, Kepatuhan dan Manajemen Risiko BPDP, Zaid Burhan Ibrahim.
Implementasi B50 dan dampak pada petani sawit
Pemerintah resmi memberlakukan kebijakan B50 pada 9 Juli 2026 di Karawang, Jawa Barat. BPDP menilai kebijakan ini akan meningkatkan serapan minyak sawit domestik dan berdampak positif bagi industri sawit nasional serta kesejahteraan pekebun sawit.
Selain penghematan devisa, peningkatan serapan domestik diharapkan menstabilkan harga tandan buah segar di tingkat pekebun. BPDP menyatakan kesiapan untuk terus mendukung perluasan campuran biodiesel ke kadar yang lebih tinggi melalui kebijakan insentif.
Ke depan, pengembangan ke B60 atau B70 akan bergantung pada hasil kajian teknis, kesiapan rantai pasok domestik, dan kebijakan pemerintah yang mengatur implementasi campuran biodiesel yang lebih tinggi.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Bunga Utang Capai Rp394,1 T, APBN Agustus 2026 Defisit
Pembayaran bunga utang mencapai Rp394,1 triliun hingga Agustus 2026, membuat APBN tercatat defisit Rp240,1 t...
Pembiayaan Utang Capai Rp506 T hingga Agustus 2026
Realisasi pembiayaan utang neto Rp506 triliun hingga 31 Agustus 2026, setara 60,8% dari target APBN 2026; SB...
IHSG Melemah 0,33% ke 6.441,15 pada Penutupan Jumat
IHSG turun 0,33% ke 6.441,15 pada penutupan Jumat; volume 32,6 miliar saham dan nilai transaksi Rp19,2 trili...
Penerbitan SBN 2026 Tetap Sesuai Rencana, Defisit APBN 2,85%
Kemenkeu: penerbitan SBN hingga akhir 2026 on track untuk penuhi pembiayaan dan jaga outlook defisit APBN 2,...
Sharp Indonesia Raih Dua Penghargaan PR Pilihan Jurnalis 2026
Sharp Indonesia dan Andry Adi Utomo meraih dua penghargaan Journalists’ Choice di Indonesia PR of the Year 2...
AXA dirikan AXA Sharia Life untuk perluas proteksi syariah
AXA mendirikan AXA Sharia Life Insurance dan mendapat izin OJK untuk memperkuat layanan asuransi syariah di...