Harga Minyak Goreng Naik, UMKM Kuliner Natuna Tertekan
Kenaikan harga minyak goreng di Kabupaten Natuna mulai berdampak pada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terutama usaha kuliner yang mengandalkan proses penggorengan. Kondisi ini membuat biaya produksi meningkat, sehingga pemilik usaha kesulitan mempertahankan harga jual dan margin keuntungan.
Dampak langsung pada usaha kuliner
Pelaku UMKM makanan, seperti penjual sempol ayam krispi, merasakan kenaikan biaya operasional setiap hari. Hambali, pemilik usaha sempol, mengatakan minyak goreng adalah bahan utama dan digunakan dalam jumlah besar. Akibatnya, keuntungan usaha menipis walau penjualan tetap.
“Banyak harga barang naik sekarang, terutama minyak. Kita kan menggoreng sempol ini, jadi butuh minyak yang banyak. Nah, ini yang bikin kita kesulitan,”
Biaya kemasan ikut naik
Selain minyak goreng, harga plastik kemasan juga meningkat. Kemasan penting untuk melayani pembeli yang membawa pulang. Hambali menyebut kenaikan plastik membuat dirinya terpaksa menyesuaikan harga jual.
“Kita bungkus sempol pakai plastik, dan kita harus menaikkan harga sempol jadinya,”
Enggan menaikkan harga jual signifikan
Meskipun biaya produksi terus naik, pelaku usaha masih ragu menaikkan harga jual secara signifikan. Kekhawatiran utama adalah kehilangan pelanggan yang beralih ke produk lain bila harga dinaikkan terlalu tinggi. Kondisi ini berpotensi menurunkan volume penjualan dan pendapatan UMKM.
Harapan pelaku usaha dan langkah yang diinginkan
Para pelaku UMKM berharap pemerintah dapat mengambil langkah untuk menstabilkan harga kebutuhan pokok, terutama minyak goreng. Mereka menilai kestabilan harga penting untuk menjaga keberlangsungan usaha kecil dan daya beli masyarakat.
“Semoga hal ini dapat teratasi. Kalau begini terus, kami sebagai pengusaha kecil jadi pusing. Mudah-mudahan harga-harga bisa kembali stabil supaya usaha kami tetap berjalan,”
Selain intervensi harga, pelaku UMKM juga menginginkan kebijakan yang mendukung akses pasokan dan subsidi bagi usaha kecil. Langkah-langkah tersebut dinilai dapat membantu menekan biaya produksi tanpa membebani konsumen yang sudah merasakan tekanan inflasi.
Jika tidak ada tindakan cepat untuk menahan laju kenaikan biaya, beberapa pelaku usaha mikro berisiko menurunkan skala usaha atau menutup sementara usahanya. Oleh karena itu, kestabilan harga dan dukungan kebijakan menjadi kunci bagi kelangsungan UMKM kuliner di Natuna.
Analis bisnis yang mengulas perkembangan industri, korporasi, dan peluang investasi.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...