MIND ID Kurangi Limbah B3 38% dalam Dua Tahun
Holding Industri Pertambangan Indonesia (MIND ID) mencatat penurunan volume limbah padat bahan berbahaya dan beracun (B3) sekitar 38 persen dalam dua tahun terakhir. Volume turun dari 351 kiloton pada 2023 menjadi 217 kiloton pada 2025. Penurunan ini diumumkan dalam kerangka Sustainability Pathway sebagai bagian dari strategi keberlanjutan perusahaan.
Data penurunan dan tren
Penurunan limbah B3 disertai pengurangan limbah padat non-B3. Volume non-B3 tercatat 1.082 kiloton pada 2023 dan turun menjadi 956 kiloton pada 2025. Tren ini menunjukkan efektivitas langkah efisiensi operasi dan pengelolaan material sisa di seluruh entitas grup.
Program pemanfaatan material sisa
MIND ID mendorong pemanfaatan kembali sisa produksi untuk menciptakan nilai tambah. Beberapa program yang dikembangkan entitas grup antara lain:
- PT Aneka Tambang Tbk (Unit Bisnis Pertambangan Nikel Kolaka) mengolah slag feronikel menjadi batako dan paving block dengan kapasitas sekitar 5.000 ton per tahun.
- PT Freeport Indonesia memanfaatkan tailing sebagai agregat campuran paste backfill untuk mendukung operasi tambang bawah tanah, dengan kapasitas sekitar 1.500 kiloton per tahun.
- PT Vale Indonesia Tbk memanfaatkan slag nikel untuk pembangunan jalan, infrastruktur tambang, dan stabilisasi lahan dengan volume pemanfaatan mencapai 5.300 kiloton per tahun.
Pernyataan pejabat MIND ID
Baik limbah B3 maupun limbah non-B3 terus menurun karena operasi dilakukan secara lebih efisien. Sehingga, limbah yang dihasilkannya pun semakin berkurang.
— Binahidra Logiardi, Division Head of Sustainability, MIND ID, Kamis, 18 Juni 2026.
Sustainability Pathway bukan sekadar alat pelaporan, tetapi merupakan instrumen untuk mengelola dampak dan memitigasi risiko. Sekaligus, menciptakan nilai tambah jangka panjang yang bermanfaat bagi perusahaan, lingkungan, serta masyarakat.
Dampak dan tantangan ke depan
MIND ID menilai permintaan global atas mineral strategis seperti aluminium, bauksit, nikel, tembaga, dan timah meningkat karena transisi energi. Kenaikan permintaan menjadi tantangan sekaligus peluang untuk memperkuat praktik penambangan berkelanjutan. Dengan mengurangi timbulan limbah dan mengolah sisa produksi, perusahaan berharap bisa menekan risiko lingkungan sekaligus menambah nilai ekonomis.
Langkah-langkah yang dilaporkan MIND ID menunjukkan pergeseran pengelolaan limbah dari sekadar kepatuhan regulasi menjadi bagian strategi bisnis jangka panjang. Upaya berkelanjutan ini dinilai krusial untuk menjaga kelangsungan operasi dan keberterimaan sosial dalam menghadapi kebutuhan energi masa depan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
KA Mutiara Timur Layani 304.522 Penumpang Jan–Sep 2026
KA Mutiara Timur layani 304.522 penumpang Jan–Sep 2026, naik 22,78%; konektivitas ke Banyuwangi dan Ketapang...
ADB Gelontorkan USD650 Juta untuk Pendalaman Pasar Keuangan Indonesia
ADB setujui dukungan USD650 juta untuk memperdalam pasar modal, modernisasi keuangan digital, dan dorong pem...
OJK Targetkan Lima Bank Syariah Beraset Besar pada 2027
OJK menargetkan lima bank syariah beraset besar pada 2027 lewat konversi dan konsolidasi, dengan BSI sebagai...
Kenaikan PTKP Dinilai Angin Segar untuk Daya Beli
Ekonom FEB UI nilai kenaikan PTKP dapat menjaga daya beli dan memperkuat keadilan pajak; pembahasan lanjut d...
Grab Luncurkan Group Ride: Berbagi Ongkos hingga 50%
Grab meluncurkan fitur Group Ride sejak April 2026 untuk atur perjalanan bersama lewat satu pemesanan, denga...
Mobilitas Kereta Api Sumatra Capai 11,34 Juta Penumpang
KAI mencatat 11.342.350 pergerakan penumpang di Sumatra (Jan–Sep 2026), naik 12,02% dibandingkan 2025.