Nasional

Ruang Damai Bahas Makna Merdeka di Era Digital

Bagikan:
Webinar Ruang Damai membahas makna merdeka dan inklusi digital lintas generasi

Ruang Damai menyelenggarakan webinar nasional bertajuk "Menjadi Indonesia: Merdeka, Berbeda dan Tetap Bersama" pada Senin, 17 Agustus 2026. Acara virtual ini menjadi momentum untuk memaknai ulang kemerdekaan di tengah disrupsi teknologi, menghadirkan akademisi dan tokoh kepemudaan lintas generasi sebagai narasumber.

Rangkaian acara dan peserta

Webinar yang digelar melalui Zoom merupakan bagian dari Ruang Damai Exhibition 2026, menandai lima tahun organisasi ini mendorong toleransi dan perdamaian. Kegiatan diikuti ratusan peserta dari beragam latar—lintas iman, aktivis, dan akademisi.

Peserta datang dari sejumlah perguruan tinggi, antara lain Universitas Indonesia (UI), Universitas Padjadjaran (Unpad), UIN, dan Universitas Sumatera Utara (USU), dengan keterwakilan wilayah dari Aceh hingga Maluku.

Ancaman algoritma dan kemerdekaan kognitif

Direktur Eksekutif Ruang Damai, Zainal Abidin, memperkenalkan gagasan "kemerdekaan kognitif" sebagai salah satu fokus. Ia menekankan bahwa tantangan terhadap kedaulatan masyarakat kini bukan hanya ancaman fisik, melainkan juga ancaman melalui mekanisme digital.

"Kemerdekaan sejati di era modern adalah ketika perbedaan identitas tidak lagi dijadikan komoditas digital untuk memecah belah, melainkan sebagai algoritma sosial yang memperkaya inovasi bangsa. Kita harus bertransformasi dari sekadar merawat slogan ‘Bhinneka Tunggal Ika’ menjadi penggerak modal sosial aktif (active social capital)."

Zainal juga mengingatkan bahwa algoritma media sosial yang menciptakan echo chamber berpotensi memperkuat polarisasi sosial. Ia mendorong inklusivitas digital, khususnya bagi komunitas adat dan penyandang disabilitas, agar perkembangan teknologi tidak mengorbankan identitas kultural.

Sejarah, toleransi, dan peran aktif masyarakat

Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto, membedah proses historis "Menjadi Indonesia" yang berlangsung dinamis sejak Sumpah Pemuda 1928 hingga Reformasi 1998 dan kini memasuki transisi kultural di era kecerdasan buatan.

Dari perspektif antropologi, ia menekankan bahwa toleransi tidak cukup bersifat pasif; toleransi harus dibangun lewat keterlibatan dan interaksi aktif antarkelompok.

"Kemerdekaan harus berarti ruang untuk menjadi diri sendiri. Tentu untuk mewujudkan toleransi dengan hadir secara penuh dalam interaksi, perjumpaan, dan kerja bersama lintas identitas."

Pendekatan spiritual generasi Z

Dari sudut generasi Z, Ketua Umum Presidium Pusat HIKMAHBUDHI, Agustina, menawarkan pendekatan spiritualitas kontemporer. Ia memperkenalkan konsep Brahmavihara sebagai jangkar moral di ruang digital bagi generasi muda.

  • Metta — cinta kasih
  • Karuna — welas asih
  • Mudita — simpati
  • Upekkha — keseimbangan batin

Menurut Agustina, nilai-nilai tersebut dapat membantu generasi muda menghadapi provokasi dan desinformasi yang beredar di dunia maya.

Kesimpulan dan langkah ke depan

Diskusi merumuskan bahwa kemerdekaan Indonesia hari ini adalah proyek sosial yang berlangsung terus. Ruang Damai menegaskan komitmennya menyediakan ruang perjumpaan inklusif untuk menjaga perbedaan sebagai modal kolaborasi, bukan sumber perpecahan.

Perbedaan diharapkan menjadi dasar bagi kerja bersama yang kolaboratif dan emansipatif, sekaligus fondasi untuk menghadapi tantangan besar seperti krisis iklim dan transformasi ekonomi digital.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait