Hasto: Makan Bergizi Gratis Lebih Efektif jika Libatkan Warung Lokal
Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menilai Program Makan Bergizi Gratis lebih efektif jika melibatkan warung dan UMKM secara gotong royong.
SURABAYA — Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menyatakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan lebih tepat sasaran dan mendorong ekonomi lokal jika pelaksanaannya berbasis masyarakat. Pernyataan itu disampaikan usai menghadiri ujian disertasi terbuka di Universitas Airlangga, Surabaya, Senin (20/7/2026).
Pelibatan warung dan UMKM sebagai solusi
Hasto menilai kritik partainya bukan terhadap tujuan program, melainkan pada metode pelaksanaan yang masih bersifat sentralistis. Menurutnya, melibatkan warga sekitar, warung makan, dan pelaku usaha mikro dapat membuat distribusi gizi lebih efektif sekaligus menggerakkan ekonomi daerah.
Ia mencontohkan keberhasilan program penanganan gizi buruk dan stunting di beberapa daerah yang menerapkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha lokal. Dengan pola itu, layanan publik meningkat dan muncul efek berganda bagi perekonomian setempat.
Pendekatan gotong royong kontra model top-down
Hasto menegaskan pendekatan gotong royong sejalan dengan prinsip partainya dalam pelayanan publik. Ia menilai program pemerintah akan lebih kuat bila pelaksanaannya memberi ruang partisipasi masyarakat, bukan hanya keputusan terpusat dari atas.
"Kritik kami sejak awal ada pada metodologi dan pendekatannya yang top-down. Program pemenuhan gizi rakyat sebenarnya sejalan dengan platform PDIP, tetapi pelaksanaannya harus berbasis masyarakat—misalnya melibatkan warung-warung di sekitar sekolah,"
Kekhawatiran soal peran perguruan tinggi
Hasto juga mempertanyakan kebijakan yang memberi kewenangan kepada perguruan tinggi mengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam Program MBG. Ia mengingatkan fungsi kampus sebaiknya fokus pada pendidikan, riset, dan pengembangan ilmu pengetahuan.
"Fungsi kampus adalah penguasaan ilmu pengetahuan, melakukan riset, dan mengembangkan teknologi terapan. Itu yang harus menjadi fokus utama perguruan tinggi,"
Larangan kader dan tindak lanjut partai
Hasto menegaskan Program MBG adalah pelayanan publik dan bukan ruang komersialisasi atau kepentingan politik. Oleh sebab itu, PDI Perjuangan melarang kadernya terlibat dalam bisnis atau operasional program tersebut untuk menghindari konflik kepentingan.
Ketika muncul dugaan keterlibatan kader dalam pelaksanaan MBG, DPP partai telah melakukan klarifikasi kepada pihak terkait. Hasto menyatakan sanksi akan diberlakukan jika pelanggaran terbukti sesuai mekanisme partai.
Selain itu, partai telah mengirim surat kepada Badan Gizi Nasional untuk meminta penjelasan terkait isu tersebut dan akan mengirimkan surat susulan jika belum memperoleh jawaban. Pernyataan ini menegaskan posisi partai dalam mengawal pelaksanaan Program MBG agar tetap fokus pada rakyat dan pelayanan publik.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
Hasto: MBG Lebih Efektif jika Libatkan Warung dan UMKM Lokal
Hasto menyarankan MBG lebih efektif bila melibatkan warung dan UMKM lokal dengan prinsip gotong royong, buka...
BEC x SCF Dongkrak Transaksi UMKM Banyuwangi Rp1,22 Miliar
Kolaborasi BEC-SCF (16–19 Juli 2026) libatkan 624 UMKM, tarik 9.000 pengunjung, dan catat transaksi business...
1.413 Atlet Mulai Bertanding di Bupati Gresik Cup 2026
Sebanyak 1.413 atlet membuka Bupati Gresik Cup 2026 di GOR Wahana, sebagai ajang pembinaan menuju Porprov, P...
DPRD Pasuruan Promosikan UMKM Lewat Goodie Bag Resmi
DPRD Pasuruan menyiapkan goodie bag berisi produk UMKM lokal sebagai cendera mata dan media promosi untuk me...
RedTalks: Nasionalisme Generasi Muda Dibahas di Malang
RedTalks di Malang (25 Juli 2026) mengajak generasi muda diskusikan nasionalisme di era digital dan merumusk...
RedTalks: Nasionalisme Tanpa Batas Generasi Digelar di Malang
DPD PDI Perjuangan Jatim gelar RedTalks di Malang, 25 Juli 2026, untuk membahas nasionalisme lintas generasi...