Nasional

Jakarta Jadi Lokasi Madani Malindo Kedua: Alasan dan Makna

Bagikan:
Delegasi Madani Malindo di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta

Jakarta dipilih sebagai tuan rumah pertemuan Madani Malindo kedua yang digelar pada Kamis malam, 20 Agustus 2026, di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta Pusat. Ketua Pengarah IKIM, Mohamed Azam Adil, mengatakan pertemuan lanjutan ini dimaksudkan memperkuat hubungan diplomasi dan kebudayaan antara Indonesia dan Malaysia serta melanjutkan diskusi yang dimulai di Kuala Lumpur tahun lalu.

Alasan pemilihan Jakarta

Menurut Mohamed Azam, pemilihan Jakarta didasarkan pada kedekatan budaya dan pengalaman sejarah kedua negara. Jakarta dipandang memiliki makna khusus karena gagasan Madani pernah dideklarasikan di Masjid Istiqlal, sehingga kota ini menjadi lokasi yang simbolis bagi kelanjutan dialog.

"Madani Malindo kedua ini melanjutkan perbincangan yang telah disepakati saat pertemuan pertama berlangsung di Kuala Lumpur tahun lalu. Kami bersyukur dapat melanjutkan diskusi tersebut di Jakarta sekaligus memperkuat hubungan masyarakat Indonesia dan Malaysia melalui kebudayaan bersama,"

Pertemuan di Jakarta juga memberi kesempatan bagi delegasi Malaysia untuk mengunjungi situs bersejarah seperti Masjid Istiqlal. Kunjungan itu dimaksudkan agar wakil kedua negara dapat memahami semangat kebersamaan dan konteks sejarah bersama.

Makna kebudayaan dan kemajemukan

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai tema perjamuan, "Negara Madani Dalam Konfigurasi Kemajemukan Budaya", relevan dengan arah penguatan kebudayaan Indonesia saat ini. Ia menekankan kebudayaan sebagai kekuatan strategis yang kini ditangani oleh kementerian tersendiri setelah hampir dua tahun pembentukannya.

"Indonesia memiliki kemajemukan luar biasa, dengan 1.340 etnis dan 718 bahasa tersebar dari Sabang hingga Merauke. Keragaman tersebut bukan ancaman, melainkan kekuatan yang dapat memperkuat Indonesia sebagai negara kokoh dan berdaulat,"

Fadli Zon menyebut kebudayaan sebelumnya sering berada dalam rumpun pendidikan atau pariwisata. Kini, penempatan kebudayaan sebagai kementerian independen memberi peluang lebih besar untuk merancang kebijakan yang menjaga persatuan tanpa mengabaikan keragaman.

Dampak bagi hubungan bilateral

Pertemuan Madani Malindo kedua membuka ruang dialog lintas komunitas dan budayawan dari kedua negara. Selain aspek diplomasi formal, forum ini fokus pada pertukaran gagasan tentang pembangunan negara bangsa yang berlandaskan nilai kebhinekaan, budaya, dan kemerdekaan bersama.

Dengan dilaksanakannya pertemuan di Jakarta, pihak penyelenggara berharap hubungan masyarakat kedua negara akan semakin erat. Langkah ini juga dipandang dapat memperkuat diplomasi budaya sebagai pelengkap hubungan politik dan ekonomi.

Ke depan, kelanjutan diskusi Madani Malindo diharapkan menghasilkan program kolaboratif yang nyata, baik dalam bidang kebudayaan, pendidikan, maupun penguatan komunitas di kedua negara.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait