Riset: Lulusan Indonesia Rata-rata Butuh 19,8 Bulan Cari Kerja
Riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mencatat lulusan di Indonesia membutuhkan waktu rata-rata 19,8 bulan untuk mendapat pekerjaan setelah kelulusan. Analisis tersebut memakai data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025 dan dipaparkan oleh M. Fajar Ramadhan pada 11 Juni 2026.
Temuan utama riset
Rata-rata durasi pencarian kerja setelah lulus mencapai hampir 20 bulan. Angka ini menunjukkan proses transisi dari dunia pendidikan ke pasar kerja berlangsung cukup lama bagi banyak lulusan.
Riset juga menemukan perbedaan berdasarkan tingkat pendidikan. Lulusan perguruan tinggi umumnya membutuhkan waktu lebih lama dibanding lulusan pendidikan menengah seperti SMA atau SMK.
Mengapa lulusan perguruan tinggi lebih lama terserap?
Menurut peneliti, ada dua faktor penting yang membuat lulusan tinggi mengalami pencarian lebih lama. Pertama, terdapat ketidaksesuaian antara keterampilan yang dimiliki lulusan dengan kebutuhan industri saat ini, yang memperpanjang proses pencarian kerja.
Kedua, ekspektasi upah lulusan perguruan tinggi cenderung lebih tinggi. Harapan gaji ini membuat mereka memilih peluang yang dianggap sesuai, sehingga waktu tunggu mendapatkan pekerjaan yang memenuhi kriteria menjadi lebih panjang.
Sementara itu, pasar kerja menunjukkan banyak lowongan yang tidak menuntut kompetensi tinggi. Kondisi ini menyebabkan lulusan SMA dan SMK lebih cepat terserap dibanding lulusan perguruan tinggi.
Rekomendasi dan langkah yang disarankan
Untuk mempercepat masa transisi, peneliti mendorong perbaikan pada sisi pendidikan vokasi dan peningkatan akses informasi lowongan. Perbaikan tersebut ditujukan agar lulusan memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja.
"Durasi rata-rata memperoleh pekerjaan setelah lulus mencapai hampir 20 bulan,"
Selain itu, peneliti menekankan perlunya penyesuaian kurikulum dan program pelatihan di lembaga pendidikan dengan kebutuhan industri. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi kesenjangan keterampilan dan menurunkan waktu pencarian kerja.
"Lembaga pendidikan perlu menyesuaikan program dengan kebutuhan pasar kerja,"
Implikasi kebijakan
Angka durasi hampir 20 bulan menunjukkan tantangan jangka menengah bagi kebijakan ketenagakerjaan dan pendidikan. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat memperpanjang periode pengangguran sehingga berdampak pada pendapatan awal lulusan dan dinamika pasar tenaga kerja.
Upaya kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan dunia industri diperlukan untuk menyelaraskan kompetensi dan membuka jalur transisi kerja yang lebih cepat bagi lulusan.
Berita Terkait
Mendes Kukuhkan 200 Pemuda Bangun Desa, Dikirim Belajar ke Jepang
Mendes kukuhkan 200 Pemuda Bangun Desa (11 Juni 2026); mereka akan belajar di Jepang untuk meningkatkan SDM...
MPP Jakarta Jadi Pusat Solusi Layanan Publik Terintegrasi
MenPAN-RB Rini Widyantini sebut MPP DKI Jakarta sebagai pusat solusi layanan publik terintegrasi dengan laya...
Dirut RRI Tegaskan Peran RRI dalam Pendidikan Karakter
Dirut RRI I Hendrasmo menegaskan RRI berperan memperkuat pendidikan karakter bangsa lewat siaran dan platfor...
Jusuf Kalla Temui Presiden Prabowo di Istana Merdeka
Jusuf Kalla bertemu Presiden Prabowo di Istana Merdeka pada 11 Juni 2026 untuk silaturahmi dan dialog dengan...
KPK Tetapkan Lima Tersangka Suap Audit BPK di Muara Enim
KPK menetapkan lima tersangka terkait dugaan suap audit BPK Muara Enim 2025; tiga pemberi dan dua penerima d...
Kepala BGN Lapor Presiden soal Efisiensi Anggaran MBG
Kepala BGN Nanik S. Deyang menemui Presiden Prabowo untuk melapor rencana efisiensi anggaran Program Makan B...