Nasional

UNESCO: Literasi Kritis dan Pembelajaran Sepanjang Hayat Penting

Bagikan:
Ilustrasi literasi kritis dan pembelajaran sepanjang hayat di era digital

UNESCO menekankan bahwa kemampuan membaca dan menulis harus dilengkapi dengan kemampuan memahami informasi secara kritis, serta didukung oleh pembelajaran sepanjang hayat agar masyarakat mampu menghadapi perubahan zaman.

Kondisi global dan data literasi

Chief of Education UNESCO Regional Office untuk wilayah ASEAN, Santos Khatri, menyatakan meski terjadi peningkatan literasi dalam enam dekade terakhir, tantangan besar masih tersisa. Data yang dikemukakan menunjukkan 88 persen orang dewasa mengalami peningkatan literasi.

Namun Santos menyoroti bahwa pada 2024 masih terdapat 739 juta remaja yang belum memiliki keterampilan literasi dasar. Menurutnya, angka melek aksara saja tidak cukup untuk menggambarkan kualitas literasi masyarakat.

Pembelajaran sepanjang hayat menjadi hal yang penting untuk terus dilakukan. Tingkat melek aksara saja tidak memberikan gambaran yang lengkap

Situasi di Indonesia

Di tingkat nasional, Santos mengapresiasi capaian Indonesia yang mencatat tingkat melek aksara sebesar 97 persen untuk penduduk usia 15 tahun ke atas. Meski demikian, ia menekankan perlunya penguatan kemampuan memahami informasi dan berpikir kritis.

Sejalan dengan itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menyatakan literasi kini bukan hanya soal membaca huruf, tetapi juga memahami realitas sosial, lingkungan, ekonomi, serta perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan.

Enam dekade perjalanan ini mengingatkan kita bahwa literasi tetap menjadi fondasi penting bagi martabat manusia. Literasi juga menjadi fondasi pendidikan sepanjang hayat dan kemajuan bangsa

Tantangan di era digital dan kecerdasan buatan

Pejabat terkait menyoroti kompleksitas tantangan literasi di era digital. Konten yang beredar cepat menuntut masyarakat untuk memilah informasi dan berpikir reflektif terhadap kebenaran informasi.

Dirjen Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Tatang Muttaqin menegaskan bahwa literasi harus melampaui kemampuan teknis membaca dan menulis. Masyarakat perlu kemampuan memilah informasi, menggunakan teknologi secara bijak, dan mengambil keputusan yang tepat.

Literasi bukan sekadar kemampuan membaca huruf, tetapi kemampuan membaca kehidupan. Kita harus mampu membaca informasi dan memilah mana yang benar dan mana yang menyesatkan

Arah kebijakan dan implikasi

Peringatan Hari Aksara Internasional 2026 dianggap sebagai momentum untuk merenung sekaligus bertindak. Pemerintah didorong memperdalam makna literasi dan menyusun agenda yang lebih kuat untuk menghadapi masa depan.

Fokus kebijakan yang direkomendasikan mencakup peningkatan kapasitas berpikir kritis di semua jenjang pendidikan, integrasi literasi digital dan etika penggunaan AI, serta program pembelajaran sepanjang hayat yang inklusif.

Dengan demikian, upaya literasi diarahkan tidak hanya pada pengukuran melek aksara, tetapi pada dampak nyata terhadap kemandirian, produktivitas, dan kualitas hidup masyarakat menghadapi perubahan zaman.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait