Kesehatan

BPOM Gelar SIGMA 2026 Perkuat Ketahanan Kefarmasian

Bagikan:
Ilustrasi acara SIGMA 2026 BPOM memperkuat ketahanan kefarmasian dan regulasi obat

BPOM menggelar SIGMA 2026 pada Senin, 7 September 2026 di Jawa Barat untuk memperkuat layanan regulatori terpadu dan menjamin akses obat yang aman, bermutu, dan berkhasiat. Kegiatan lima hari ini diselenggarakan bersama Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GPFI) Provinsi Jawa Barat sebagai bagian transformasi pelayanan menuju integrated regulatory services.

Peserta dan format kegiatan

Forum SIGMA menghadirkan berbagai pemangku kepentingan sektor kefarmasian. Tujuannya adalah mengintegrasikan fungsi pengawasan dari tahap pra-pemasaran hingga pasca-pemasaran dalam satu wadah kolaboratif untuk memperkuat koordinasi.

  • 45 perwakilan industri farmasi
  • 21 fasilitas distribusi farmasi
  • 4 fasilitas pelayanan kefarmasian wilayah Jawa Barat
  • Pejabat yang hadir termasuk perwakilan Kementerian Kesehatan

Kebijakan registrasi dan diversifikasi rantai pasok

Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menjelaskan bahwa salah satu kebijakan penting yang dibahas adalah penerbitan aturan registrasi variasi terkait perubahan produsen zat aktif. Kebijakan ini diarahkan untuk mendukung diversifikasi sumber bahan baku dan menjaga kesinambungan produksi obat nasional.

“Khususnya di tengah lanskap farmasi global yang sedang menghadapi tantangan dinamika geopolitik, ini berimbas terhadap ketersediaan bahan baku obat akibat terganggunya rantai pasok global. Oleh karena itu, kita memerlukan upaya konkret diversifikasi bahan baku, rantai pasok yang tangguh, industri yang berdaya saing, dan inovasi berkelanjutan,”

Taruna menegaskan BPOM harus menjaga keseimbangan antara fungsi regulator dan fasilitator untuk memberi kemudahan berusaha tanpa mengorbankan keselamatan publik.

Langkah teknis penguatan regulasi

BPOM mendorong pendekatan evaluasi registrasi yang lebih efektif berbasis risiko. Beberapa langkah teknis yang diungkapkan meliputi:

  • Pemanfaatan mekanisme reliance untuk percepatan evaluasi tanpa menurunkan standar keamanan
  • Penerapan CPOB dan CDOB sebagai fondasi mutu sepanjang rantai pasok
  • Integrasi inspeksi, pengujian laboratorium, dan farmakovigilans untuk pengawasan pascapemasaran

Pengawasan pascapemasaran juga memperhatikan keluhan pasien dan sinyal keamanan untuk mendeteksi dan mencegah masalah mutu obat.

“BPOM berkomitmen untuk tidak hanya menjadi regulator, tetapi juga hadir memberikan pelayanan dan fasilitasi kepada pelaku usaha. Ketahanan obat merupakan bagian dari ketahanan nasional, ketersediaan obat yang aman, bermutu, efektif merupakan aspek strategis yang perlu diperkuat,”

Implikasi dan prospek

Melalui SIGMA 2026, BPOM memetakan langkah praktis agar kebijakan lebih cepat terimplementasi dan kebutuhan industri selaras dengan persyaratan regulasi. Pendekatan yang lebih adaptif, responsif, berbasis risiko, dan terintegrasi diharapkan memperpendek kesenjangan antara kebijakan dan praktik di lapangan.

Ke depan, sinergi antara regulator, industri, dan fasilitas distribusi menjadi kunci untuk menjaga ketersediaan obat nasional dalam menghadapi gangguan rantai pasok global serta meningkatkan daya saing industri farmasi dalam negeri.

Putri Anindya
Penulis
Putri Anindya

Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.

Berita Terkait