Dua Bulan di Garis Api: Manggala Agni Bertahan di Kalbar
Manggala Agni di Provinsi Kalimantan Barat bertahan lebih dari dua bulan di garis depan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Mereka bekerja memadamkan titik api, patroli, dan mencegah pengulangan kebakaran meski diterpa asap pekat dan panas menyengat. Penugasan panjang membuat personel jauh dari keluarga dan istirahat terbatas.
Hari-hari di lapangan
Posko dan tenda menjadi tempat istirahat yang sederhana. Sebagian personel tak bisa kembali ke rutinitas keluarga selama penugasan berlangsung.
Bersama TNI, Polri, Brigade KPH, dan Masyarakat Peduli Api (MPA), mereka menghadapi medan berat, panas tinggi, serta asap yang mengganggu napas dan penglihatan.
"Selama ini lebih banyak merasakan dampak asap terhadap kesehatan dan aktivitas sehari-hari. Ketika orang mencoba lari ketika ada api, mereka malah masuk ke dalam untuk memastikan api padam," kata Sahat Irawan Manik.
Perlindungan kesehatan dan peralatan
Perhatian utama adalah keselamatan fisik dan kesehatan. Personel mendapat multivitamin, suplemen, dan pemeriksaan kesehatan berkala.
Jika kondisi menurun, mereka dipulangkan sementara untuk beristirahat sebelum kembali bertugas. Dukungan oksigen portable juga disiapkan saat kualitas udara memburuk.
Perlengkapan pelindung meliputi pelindung kepala, kacamata, masker khusus, pakaian pelindung, sepatu tahan api, dan sarung tangan tahan panas. Perlengkapan ini mengurangi risiko, namun tidak menghapus seluruh bahaya di lapangan.
Sistem kerja dan dukungan psikis
Manggala Agni menerapkan sistem rolling untuk memberi jeda istirahat kepada setiap personel. Istirahat tidak selalu pulang; sering bergeser dari titik pemadaman ke posko atau tenda.
Upaya menjaga semangat meliputi kegiatan sederhana: bercanda, bernyanyi, dan hiburan kecil bersama rekan. Cara ini membantu meredam tekanan psikis selama bertugas.
"Kalau dari sisi psikis, kita atur sistem rolling-nya supaya ada waktu mereka untuk istirahat. Kemudian bergurau, bernyanyi dan kegiatan-kegiatan yang menghibur," ujar Sahat.
Imbauan dan dampak luas
Sahat mengingatkan masyarakat bahwa dampak karhutla tidak hanya menimpa warga yang terpapar asap. Ada pula pasukan yang harus meninggalkan rumah dan keluarga untuk berdiri di garis depan.
"Yang terdampak oleh api dan asap itu bukan hanya masyarakat umum, tetapi juga pasukan-pasukan yang berdiri di garis depan," ujar Sahat.
Ia menegaskan kebakaran yang bisa dicegah seharusnya tidak terjadi. Masyarakat diminta menghindari aktivitas yang memicu karhutla untuk melindungi lingkungan dan keselamatan petugas.
Penanganan karhutla di Kalbar membutuhkan kolaborasi, dukungan logistik, dan kepatuhan publik agar upaya pemadaman tidak terus membebani pasukan di lapangan.
Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.
Berita Terkait
Mengenal Ikan Sidat: Omega-3 Tinggi, Potensi Pangan dan Ekonomi
Ikan sidat kaya Omega-3 (DHA & EPA) dan nutrisi lain, berpotensi jadi sumber pangan bergizi sekaligus komodi...
Paparan Panas Ancaman Kulit: Wardah Perkenalkan Sunscreen dengan Heat Defense
Wardah perkenalkan sunscreen dengan teknologi Heat Defense pada acara di Jakarta, 3 Oktober 2026, untuk lind...
Hari Hewan Sedunia: 5 Penyakit Zoonosis yang Perlu Diwaspadai
Pada Hari Hewan Sedunia (4 Okt), kenali 5 penyakit zoonosis utama, cara penularan, dan langkah pencegahannya...
Dinkes Jabar: Influenza Tipe A Mudah Menular dalam Keluarga
Dinkes Jawa Barat ingatkan influenza tipe A mudah menular di keluarga; isolasi mandiri dan pakai masker pent...
Nakes Tangerang Inspeksi Jajanan Sekolah untuk Cegah Pangan Tak Aman
Nakes Tangerang inspeksi jajanan sekolah untuk memastikan kebersihan, keamanan pangan, dan mendukung tumbuh...
Tangerang Waspadai Influenza Tipe A: Dinkes Imbau Orang Tua Waspada
Dinkes Kota Tangerang imbau orang tua waspada terhadap influenza tipe A; Kabupaten Tangerang melaporkan stat...