Kasus ISPA Lampung Selatan Naik Drastis Setelah Erupsi Anak Krakatau
Lampung Selatan, 8 September 2026 — Dinas Kesehatan Lampung Selatan mencatat lonjakan tajam kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pascakerusakan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Dalam dua hari terakhir, angka ISPA meningkat dari rata-rata 25 kasus menjadi 337 kasus.
Lonjakan kasus ISPA dan kondisi abu vulkanik
Kepala Dinas Kesehatan Lampung Selatan, Devi Arminanto, menyatakan sebaran abu vulkanik kini mulai berkurang signifikan. Hujan abu dilaporkan sudah tidak terjadi, tetapi endapan debu masih menempel di pepohonan dan atap bangunan.
"Intensitas sebaran debu vulkanik Gunung Anak Krakatau kini mulai berkurang. Bahkan bisa dikatakan sudah tidak ada lagi hujan abu," ujar Devi dalam keterangan tertulis, Selasa, 8 September 2026.
Devi menambahkan bahwa debu yang tersisa merupakan endapan dari erupsi sebelumnya dan masih berpotensi beterbangan kembali saat tertiup angin.
Gejala lain dan penanganan medis
Selain ISPA, Dinkes Lampung Selatan mencatat beberapa keluhan kesehatan lain di wilayah terdampak. Mayoritas kasus bersifat ringan dan ditangani secara rawat jalan di puskesmas setempat.
- ISPA: meningkat dari rata-rata 25 menjadi 337 kasus dalam dua hari;
- Gangguan mata: 20 kasus;
- Iritasi kulit: 16 kasus.
Keluhan terbanyak tercatat di Kecamatan Rajabasa, salah satu wilayah pesisir yang terdampak parah. Hingga laporan terakhir, belum ada pasien yang harus dirujuk ke rumah sakit.
Upaya pemerintah daerah
Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan menyiapkan posko penanganan bencana dan layanan kesehatan untuk mempercepat bantuan ke warga pesisir. Posko tingkat kabupaten ditempatkan di kantor BPBD, sementara Posko Utama Kesehatan beroperasi di Desa Cantik.
Untuk mengurangi risiko paparan, Dinas Kesehatan telah membagikan hampir 127 ribu masker. Stok pemerintah saat ini tercatat sekitar 705 ribu masker dan telah diajukan pengadaan tambahan.
Imbauan kesehatan dan langkah ke depan
Dinkes mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan jika tidak mendesak dan tetap menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Pemerintah daerah terus memantau kondisi kesehatan warga dan kesiapan fasilitas kesehatan.
Situasi masih dipantau ketat; potensi beterbangan kembali debu saat angin kencang menjadi fokus pengawasan ke depan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Siapkan Pusat Rehabilitasi untuk Warga Binaan Narkotika
Pemerintah siapkan pusat rehabilitasi dan reedukasi bagi warga binaan pengguna narkotika untuk atasi overkap...
BMKG Waspadai Hujan Lebat, Petir, Angin Kencang 5-8 Okt
BMKG keluarkan peringatan dini hujan lebat, petir, dan angin kencang pada 5-8 Oktober 2026; waspadai empat w...
Prabowo Pimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap
Presiden Prabowo memimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap, 5 Oktober 2026; melibatkan 3.378 personel...
HUT TNI ke-81: DPR Dorong Modernisasi Hadapi Perang Modern
DPR mendesak modernisasi alutsista dan peningkatan pelatihan TNI menjelang HUT ke-81, seiring anggaran 2027...
Dua Induk Badak Sumatera Bunting di Way Kambas, Harapan Konservasi
Dua induk badak sumatera, Ratu dan Delilah, dinyatakan bunting di Suaka Rhino Sumatra Way Kambas; pemantauan...
Prabowo Minta Bakom Gunakan Bahasa Sederhana dan Dengarkan Rakyat
Presiden Prabowo minta Bakom gunakan bahasa sederhana, jelaskan alasan kebijakan, dan dengarkan masukan masy...