40 Siswa MAN 1 Model Kunjungi Rumoh Batik Malaka, Praktik Membatik
Aceh Besar — Sebanyak 40 siswa MAN 1 Model Banda Aceh mengunjungi Rumoh Batik Malaka di Gampong Lam Ara, Kecamatan Kuta Malaka, Senin (21/9). Kunjungan ini bagian dari program kokurikuler untuk memberi pengalaman belajar langsung tentang proses pembuatan batik dan kerajinan Aceh.
Kunjungan dan tujuan pembelajaran
Kedatangan rombongan disambut oleh Wakil Ketua Harian Dekranasda Aceh Besar, Nurbaiti, bersama pengurus lainnya. Para siswa adalah peserta kelas unggulan yang dipersiapkan melanjutkan pendidikan ke sekolah kedinasan. Mereka didampingi kepala madrasah dan guru pembimbing.
- Dr. Nursiah, S.Ag., M.Pd. — Kepala MAN 1 Model Banda Aceh
- Zakia Munte, S.Pd. — Wakil Kepala Bidang Kurikulum
- Rina Novia, S.Si. — Wali Kelas XI
Praktik membatik dan pengenalan budaya
Di lokasi, siswa diperkenalkan langkah-langkah pembuatan batik mulai dari desain motif, pewarnaan, hingga teknik membatik. Selain melihat proses, mereka juga diberi kesempatan praktik langsung membatik di bawah bimbingan pengrajin setempat.
Kegiatan ini dirancang untuk mengenalkan nilai budaya dan aspek ekonomi di balik produk kerajinan Aceh. Dengan pengalaman langsung, siswa dapat memahami proses produksi serta nilai seni yang melekat pada setiap motif.
Dukungan Dekranasda dan harapan sekolah
Wakil Ketua Harian Dekranasda Aceh Besar, Nurbaiti, menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam pelestarian kerajinan daerah.
“Generasi muda perlu mengenal produk kerajinan daerah secara langsung. Dengan mengetahui proses dan nilai yang ada di balik sebuah karya, kita berharap mereka memiliki kepedulian untuk menjaga dan merawat kerajinan lokal Aceh agar tetap berkembang dan dikenal,” ujar Nurbaiti.
Nurbaiti juga berharap kunjungan ini mendorong pertukaran ide antara pelajar dan perajin. Ia menilai kreativitas anak muda dapat menjadi sumber inovasi untuk motif, desain, dan promosi batik.
Kepala MAN 1 Model Banda Aceh, Dr. Nursiah, menyatakan pembelajaran di luar kelas penting untuk menumbuhkan nasionalisme dan kecintaan terhadap produk lokal.
“Kami ingin anak-anak memiliki rasa nasionalisme dan kecintaan terhadap tanah air, termasuk menghargai produk-produk lokal. Semoga kunjungan dan praktik membatik ini memberi pengalaman yang berkesan dan pengetahuan yang terus mereka bawa,” kata Nursiah.
Implikasi dan tindak lanjut
Kunjungan ini tidak hanya memperkaya pengalaman siswa, tetapi juga membuka peluang kolaborasi antara dunia pendidikan dan pelaku kerajinan. Hadirnya ide-ide baru dari generasi muda diharapkan dapat mendukung pengembangan Batik Malaka baik dari sisi desain maupun pemasaran.
Dengan pemahaman proses dan nilai budaya, siswa diharapkan menjadi duta kecil yang membantu memperkenalkan produk lokal Aceh di lingkungan mereka.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Banjir Bandang Tutup Akses Dusun di Samosir, 3 Rumah Rusak
Banjir bandang di Dusun I Sitobu, Simanindo (26/9) menutup akses dan merusak tiga rumah; warga dievakuasi, p...
Telkomsel Ajak Pelanggan IndiHome Nobar Gratis di Medan
Telkomsel menggelar nobar gratis untuk 200 pelanggan IndiHome di Medan pada 26 September, menyediakan tiket...
Realisasi TKD Aceh Capai 30,16% hingga 25 September 2026
Realisasi TKD Aceh 2026 mencapai 30,16% (Rp498,25 miliar) per 25 Sept; serapan mingguan naik Rp41,16 miliar...
Basemen Pasar Petisah Medan Terendam, Pedagang Keluhkan Bau
Basemen Pasar Petisah Medan tergenang mata kaki pada 27/9, diduga karena mesin penyedot air bermasalah; peda...
Polsek Siantar Selatan Tangani Video Bullying di SMPN 12 Pematangsiantar
Polsek Siantar Selatan menindaklanjuti video bullying di SMPN 12 Pematangsiantar; korban dirawat, pelaku sko...
Beras Bansos di Pulo Padang Dinilai Tepat Sasaran
Penyaluran 1.266 paket beras bansos di Pulo Padang berlangsung tertib dan sesuai data verifikasi, kata Lurah...