Penerima MNAE 2026 Terapkan Pembelajaran dengan Aksi Nyata
Penerima Mentari National Awards for Educators (MNAE) 2026 memperlihatkan praktik pembelajaran yang mendorong siswa memahami masalah lingkungan dan menghasilkan aksi nyata. Pada acara di Fairmont Hotel, Jakarta, Sabtu, 26 September 2026, dua guru memaparkan inovasi pembelajaran mereka yang langsung menjawab kebutuhan sekolah dan lingkungan.
Pembelajaran berbasis proyek: bioplastik di Surabaya
Di SMP Nation Star Academy Surabaya, Muhammad Izhar Mahendra Surya Nugraha menerapkan project-based learning untuk menangani persoalan sampah plastik. Program mengajak siswa mempelajari pencemaran plastik, merancang prototipe, dan membuat bioplastik sebagai solusi praktis.
Mahendra menyebut gagasan itu lahir dari kondisi sekolah yang berada dekat sungai, sehingga sampah plastik sering terbawa arus saat hujan. Ia berharap pembelajaran ini membangun kebiasaan mengurangi plastik sekali pakai.
“Saya menyusun praktik baik yang berjudul Creating Eco-Conscious Learners Through Sustainable Science. Saya menggunakan model pembelajaran project-based learning,” ujar Mahendra.
Program literasi dan konservasi: karya dan aksi
Penerima Mentari Leadership Awards, Meildy Louisa Kese, mengembangkan program literasi di SMP dan SMA Lentera Harapan untuk menguatkan kemampuan membaca dan menulis siswa pasca pandemi. Program ini diinisiasi setelah diskusi tentang langkah konkret untuk meningkatkan literasi siswa.
Melalui Gerakan Sekolah Menulis Buku (GSMB), siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mendorong kreativitas dan keterampilan riset.
- Penulisan buku
- Riset
- Festival literasi
- Lomba desain sampul
“Kami memotivasi siswa untuk berkarya, berkarya, dan berkarya. Hidup manusia ini hanya sementara, tetapi karya itu akan ada untuk selamanya,” kata Meildy.
Selain literasi, Meildy melibatkan siswa dalam aksi konservasi, termasuk penanaman 1.100 bakau dan 200 bambu sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual.
Dampak dan implikasi pembelajaran kontekstual
Praktik kedua guru ini menegaskan bahwa pembelajaran efektif terjadi ketika siswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga dilibatkan dalam proses mencari solusi nyata. Metode seperti pembelajaran berbasis proyek dan program literasi yang terintegrasi dengan aksi lingkungan memberi pengalaman langsung yang memperkuat pemahaman dan sikap.
Dengan langkah ini, sekolah menjadi laboratorium solusi bagi persoalan lokal. Model pembelajaran semacam itu berpotensi direplikasi di sekolah lain untuk meningkatkan kompetensi literasi dan kepedulian lingkungan di kalangan siswa.
Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.
Berita Terkait
20 Pendidik Raih MNAE 2026, Hadirkan Inovasi dari Berbagai Daerah
Sebanyak 20 pendidik meraih MNAE 2026 di Jakarta atas inovasi pembelajaran yang dikembangkan untuk tantangan...
Penemuan Neptunus: Sejarah dari Gangguan Orbit Uranus
Neptunus ditemukan 23 Sep 1846 setelah posisinya diprediksi lewat perhitungan matematika akibat gangguan orb...
Amoeba 'Api' Pecahkan Rekor, Berkembang Biak di 63°C
Amoeba 'Api' Incendiamoeba cascadensis mampu berkembang biak pada 63°C, rekor baru eukariota ditemukan di La...
UNAS Perkuat Program Beasiswa: Dorong Magang dan Kemandirian
UNAS memberi beasiswa kepada 67 mahasiswa sekaligus mendorong magang dan kemandirian ekonomi lewat pengemban...
BRIN Kembangkan Bungkil Malapari sebagai Alternatif Pakan Ternak
BRIN kembangkan bungkil malapari sebagai pakan ternak untuk kurangi ketergantungan impor dan tekan biaya pro...
5 Kriteria Memilih Software Stok Barang Terbaik di Indonesia
Pelajari lima kriteria penting untuk memilih software stok barang yang akurat, terintegrasi, dan sesuai alur...