BAT Swift Kembali Aktif, Detektor Sinar Gamma Beroperasi Lagi
Observatorium antariksa Neil Gehrels Swift milik NASA kembali menjalankan operasi pengamatan secara lebih normal setelah instrumen ketiganya, Burst Alert Telescope (BAT), dinyatakan aktif kembali dan mendeteksi sinar gamma pada 18 September 2026. Pengaktifan ini memungkinkan sistem otomatis Swift kembali mengarahkan teleskop saat terjadi ledakan sinar gamma.
BAT kembali beroperasi dan kalibrasi
Tim misi Swift mengonfirmasi bahwa BAT telah dikalibrasi dan mulai mengumpulkan data pada 18 September 2026. Instrumen ini sempat dihentikan sementara sejak April 2026 untuk mengurangi konsumsi daya dan memperpanjang masa operasi satelit di orbit.
BAT mampu mengamati sekitar 16 persen wilayah langit dalam satu waktu. Ketika mendeteksi ledakan sinar gamma, Swift dirancang untuk secara otomatis mengarahkan teleskop Ultraviolet/Optical dan X-ray ke lokasi sumber.
Pengaktifan kembali kemampuan otomatis
Setelah BAT kembali beroperasi, kemampuan pengarahan otomatis (autonomous slewing) diaktifkan kembali pada 21 September 2026. Dengan begitu, sistem Swift bisa langsung menargetkan dan mengamati sumber ledakan menggunakan instrumen lain.
Perubahan ini berlangsung setelah rencana komersial untuk menaikkan orbit Swift dikurangi skala. Pengurangan tersebut membuat tim misi memutuskan untuk memulihkan beberapa fungsi yang sebelumnya dibatasi.
Perubahan strategi pengamatan sejak 2025
Sejak Desember 2025, tim operasi sains Swift mengubah sekitar 25 persen target pengamatan. Perubahan menekankan pemilihan wilayah langit yang mengurangi hambatan atmosfer saat satelit melakukan pengamatan.
Pada Februari 2026, strategi ini diterapkan penuh sehingga pergerakan otomatis berdasarkan deteksi BAT sempat dihentikan. Langkah itu bagian dari upaya menghemat daya hingga situasi orbit diklarifikasi.
Status orbit dan proyeksi masa depan
Saat ini Swift berada sekitar 325 kilometer di atas permukaan Bumi dan terus mengalami penurunan ketinggian lebih cepat daripada sebelumnya. Tanpa peningkatan orbit, operasi satelit diperkirakan akan semakin menantang jika ketinggian turun di bawah 300 kilometer.
Tim misi memperkirakan Swift dapat mencapai ambang 300 kilometer pada awal hingga pertengahan Oktober 2026. Kondisi ini akan memengaruhi waktu pengamatan dan durasi misi jika tidak ada intervensi lebih lanjut.
Dengan BAT yang kembali aktif, Swift diharapkan dapat melanjutkan peran pentingnya dalam mendeteksi dan mengamati peristiwa sinar gamma sambil tim misi memantau kondisi orbit untuk langkah selanjutnya.
Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.
Berita Terkait
20 Pendidik Raih MNAE 2026, Hadirkan Inovasi dari Berbagai Daerah
Sebanyak 20 pendidik meraih MNAE 2026 di Jakarta atas inovasi pembelajaran yang dikembangkan untuk tantangan...
Penemuan Neptunus: Sejarah dari Gangguan Orbit Uranus
Neptunus ditemukan 23 Sep 1846 setelah posisinya diprediksi lewat perhitungan matematika akibat gangguan orb...
Amoeba 'Api' Pecahkan Rekor, Berkembang Biak di 63°C
Amoeba 'Api' Incendiamoeba cascadensis mampu berkembang biak pada 63°C, rekor baru eukariota ditemukan di La...
UNAS Perkuat Program Beasiswa: Dorong Magang dan Kemandirian
UNAS memberi beasiswa kepada 67 mahasiswa sekaligus mendorong magang dan kemandirian ekonomi lewat pengemban...
BRIN Kembangkan Bungkil Malapari sebagai Alternatif Pakan Ternak
BRIN kembangkan bungkil malapari sebagai pakan ternak untuk kurangi ketergantungan impor dan tekan biaya pro...
5 Kriteria Memilih Software Stok Barang Terbaik di Indonesia
Pelajari lima kriteria penting untuk memilih software stok barang yang akurat, terintegrasi, dan sesuai alur...