IDAI Waspadai Dampak Asap Karhutla pada Anak
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengimbau orang tua agar mewaspadai dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan anak. Peringatan diberikan menyusul lonjakan kasus gangguan pernapasan di sejumlah daerah terdampak, berdasarkan data terkini hingga 9 September 2026.
Partikel PM2.5 dan risiko pada anak
Ketua Pengurus Pusat IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, menekankan bahwa asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 yang berbahaya bagi saluran pernapasan. Partikel tersebut dapat menembus saluran pernapasan bagian bawah dan masuk ke aliran darah.
Anak menjadi kelompok rentan karena menghirup lebih banyak udara relatif terhadap berat badannya, sementara sistem pernapasan dan imun mereka masih berkembang.
“Karhutla bukan sekadar bencana lingkungan, tetapi juga menjadi darurat kesehatan bagi anak dan kelompok rentan. Asap karhutla mengandung partikel berbahaya yang dapat mengganggu kesehatan pernapasan anak serta kelompok rentan lainnya,”
Pernyataan itu disampaikan Piprim dalam keterangan pers di Jakarta, Minggu, 27 September 2026.
Data kasus dan wilayah terdampak
IDAI mencatat dampak kesehatan dari karhutla berdasarkan data Kementerian Kesehatan. Hingga 9 September 2026, tercatat 113.336 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat karhutla di tujuh provinsi.
Proporsi kasus pada anak juga tinggi. IDAI melaporkan:
- 26.545 kasus ISPA pada balita akibat karhutla;
- Di Riau tercatat 10.783 kasus ISPA selama Agustus–September, dengan mayoritas menyerang anak usia 0–9 tahun;
- Kalimantan Selatan melaporkan 524 kasus pneumonia selama periode kemarau dan karhutla;
- RS Bhayangkara Pontianak mencatat kenaikan kasus ISPA dan pneumonia sekitar 10–20 persen sejak karhutla melanda Kalimantan Barat.
Apa yang harus dilakukan orang tua
IDAI mengimbau orang tua untuk mengurangi paparan anak terhadap asap. Langkah praktis meliputi menghindari aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara buruk, menggunakan masker yang sesuai bila terpaksa keluar, dan segera berkonsultasi ke tenaga kesehatan bila muncul gejala pernapasan.
Selain itu, pemantauan kondisi anak dengan riwayat asma atau penyakit kronis penting dilakukan karena mereka berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi.
Dengan data menunjukkan peningkatan signifikan kasus pernapasan pada anak, pihak kesehatan menegaskan bahwa penanggulangan asap dan pencegahan paparan harus menjadi prioritas di wilayah terdampak.
Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.
Berita Terkait
Kenali Oseltamivir: Obat Antivirus untuk Influenza
Oseltamivir adalah obat antivirus resep untuk influenza A dan B; penggunaan perlu evaluasi medis dan tidak u...
Dokter: Furosemide Percepat Produksi Urine, Risiko Dehidrasi
Dokter nefrologi jelaskan furosemide mempercepat keluaran urine sehingga menurunkan cairan tubuh dan berisik...
Komisi IX DPR Sosialisasi UU Kesehatan dan Ajak Hidup Sehat
Komisi IX DPR dan Kemenkes sosialisasi UU Kesehatan No.17/2023 di Bekasi, mengajak masyarakat menjaga pola h...
Pemprov Jabar Dorong Sistem Rujukan BPJS Berbasis Kemampuan
Pemprov Jabar dan Kemenkes uji coba sistem rujukan BPJS berbasis kemampuan layanan di Bandung untuk memperce...
Jangan Remehkan Influenza A, Dokter Sebut Gejala Bisa Berat
dr. Hasto Harsono ingatkan agar tak meremehkan influenza A setelah alami gejala berat—demam tinggi, kelelaha...
Dinkes Jabar Imbau Warga Waspadai Sebaran Influenza Tipe A
Dinkes Jabar mengimbau waspada Influenza Tipe A setelah 65 kasus di Bandung; pantau gejala tiga hari dan seg...