PDI Perjuangan Tulungagung Gelar Dialog Publik Peringatan Kudatuli
Tulungagung — DPC PDI Perjuangan Kabupaten Tulungagung menggelar dialog publik bersama perwakilan organisasi kepemudaan pada Senin (27/7/2026). Kegiatan bertema “Jas Merah untuk Demokrasi Indonesia” digelar untuk memperingati peristiwa Kudatuli (Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli) dan membahas pelajaran demokrasi dari peristiwa tersebut.
Sejarah Kudatuli menurut partai
Pada acara itu, Ketua DPC PDI Perjuangan Tulungagung, Erma Susanti, memaparkan pengalaman pribadinya saat menjadi mahasiswa pada masa Kudatuli. Ia menegaskan peristiwa itu bukan sekadar konflik internal partai, melainkan bagian dari upaya represif yang menekan gerakan rakyat.
"Kudatuli dikonstruksikan sebuah peristiwa konflik internal partai, tapi yang sesungguhnya terjadi bukan demikian. Karena di dalamnya ada pembelahan kekuatan rakyat hingga upaya represif dari tangan-tangan kuat di belakangnya,"
Erma juga menyatakan, pada 1995–1996 gerakan perjuangan demokrasi menguat sehingga tindakan represif meluas ke kelompok petani, buruh, masyarakat, dan mahasiswa.
"Saya ingat, pada saat itu saya masih mahasiswa. Jadi, begitu luar biasanya rezim saat itu, untuk mempertahankan kekuasaan mereka menggunakan banyak cara salah satu tindakan represif dan mengkerdilkan demokrasi,"
Seruan menjaga dan merawat demokrasi
Erma mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk aktif merawat kebebasan demokrasi yang menjadi buah dari Kudatuli dan gerakan Reformasi. Ia menekankan pentingnya pendidikan politik agar demokrasi tidak mundur ke kondisi otoritarian.
"Mari kita jaga demokrasi kita. Jangan sampai ada pihak-pihak yang mencederai demokrasi kita. Kita harus melakukan edukasi politik agar demokrasi semakin baik, jangan kemudian kembali lagi ke titik nol,"
Dialog ini diharapkan menjadi salah satu upaya mewujudkan cita-cita kemerdekaan, termasuk masyarakat yang adil dan sejahtera sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Konstitusi.
Peserta dan narasumber
Acara menghadirkan sejumlah narasumber selain Erma Susanti, yakni Heru Santoso (Wakabid Keanggotaan Organisasi dan Sumber Daya DPC PDI Perjuangan Tulungagung), Wiwik Triasmoro Widiyanto (Wakabid Kehormatan Partai, Ideologi dan Kaderisasi), dan Akhol Firdaus (Dosen UIN Satu Tulungagung).
Peserta yang hadir berasal dari berbagai organisasi kepemudaan dan komunitas masyarakat, antara lain:
- Sahabat UMKM
- GMNI
- PMII
- HMI
- BEM UNITA, BEM UBHI PGRI, dan BEM UIN Satu
- HIPMI, KNPI, IPNU, IPPNU
- Pemuda Muhammadiyah, Fatayat NU, dan GP Ansor
Implikasi dan langkah ke depan
Dialog publik ini berfungsi sebagai pengingat sejarah sekaligus panggilan aksi untuk memperkuat budaya politik yang demokratis. Penyelenggara berharap diskusi berlanjut dalam bentuk pendidikan politik dan kegiatan kaderisasi untuk generasi muda di Tulungagung.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
Wara Sundari Kawal Kebutuhan Warga Tanpa Bedakan Agama di Kediri
Wara Sundari berjanji memperjuangkan kebutuhan warga Kediri tanpa memandang agama setelah menampung aspirasi...
Ketua DPRD Nganjuk Gelar Refleksi Kudatuli di Payaman
Ketua DPRD Nganjuk Tatit Heru menggelar refleksi Kudatuli di Payaman (26/7/2026) untuk mengingat perjuangan...
PDI Perjuangan Madiun Rampungkan Konsolidasi, Ranting dan Anak Ranting Dilantik
DPC PDI Perjuangan Kota Madiun melantik pengurus ranting dan anak ranting, menuntaskan konsolidasi organisas...
Kudatuli 1996: Arsip Luka 30 Tahun Menunggu Keadilan
Tiga puluh tahun setelah Kudatuli 1996, arsip mencatat korban dan indikasi pelanggaran HAM berat yang belum...
Kudatuli 1996: Lamongan Tegaskan Demokrasi untuk Rakyat
Peringatan 30 tahun Kudatuli di Lamongan menegaskan perjuangan demokrasi harus berujung pada pemerintahan ya...
Refleksi 30 Tahun Kudatuli di Jember: Puisi dan Solidaritas Papua
DPC PDI Perjuangan Jember menggelar refleksi 30 tahun Kudatuli dengan pembacaan puisi yang mengangkat kritik...