Djarot: Monumen Kudatuli Lambang Harapan dan Keadilan
JAKARTA — Ketua DPP PDI Perjuangan, Djarot Saiful Hidayat, menjelaskan makna filosofis Monumen Peristiwa Kudatuli yang kini berdiri di halaman Kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat. Menurut Djarot, monumen itu didirikan sebagai peringatan atas tragedi 27 Juli 1996 dan sebagai simbol harapan agar keadilan bagi korban segera terwujud.
Makna spiritual dan pesan kemanusiaan
Djarot mengatakan monumen lahir dari kontemplasi atas "kegelapan" yang menimpa bangsa saat tragedi itu. Ia menilai peristiwa tersebut bukan sekadar kerusuhan fisik, melainkan upaya sistematis untuk membungkam demokrasi dan mematikan nilai kemanusiaan.
"Monumen Kudatuli lahir dari kontemplasi mendalam tentang kegelapan yang menyelimuti tragedi kemanusiaan yang mencoba mematikan demokrasi atas nama kekuasaan,"
Ia menambahkan bahwa sikap pasrah keluarga korban juga merefleksikan dimensi ketuhanan dalam budaya bangsa. Djarot menggambarkan sosok Ibu Peradaban—visualisasi Megawati Soekarnoputri dalam patung karya Dolorosa Sinaga—sebagai figur yang merangkul korban dan memohon jawaban atas keadilan dari Sang Pencipta.
"Dari kondisi inilah, Ibu Peradaban terus merangkul derita korban. Itulah Ibu Pertiwi dalam gambaran menatap langit, berteriak lantang, dan memohon jawaban akan datangnya keadilan dari Sang Pencipta Kehidupan,"
Desain dan simbolisme monumen
Djarot memberi apresiasi kepada pematung Dolorosa Sinaga yang mewujudkan karya monumental ini. Patung itu memvisualisasikan pesan "Kasih Ibu Sepanjang Masa"—sebuah rangkulan sebagai harapan bahwa keadilan hukum akan datang.
Sekeliling patung dipasang empat obor elektrik yang menyala terus-menerus. Keempat obor melambangkan nilai-nilai yang diajarkan Megawati Soekarnoputri: Keyakinan, Keteguhan, Keberanian, dan Kesabaran. Nilai-nilai itu dimaknai sebagai nyala api abadi yang mendorong perjuangan menegakkan kebenaran (Satyam Eva Jayate).
"Monumen Kudatuli dengan demikian menjadi lambang tentang nyala api abadi bagi seluruh anak bangsa agar jangan pernah takut untuk berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan,"
Data korban dan jejak sejarah
Peristiwa yang dikenal sebagai Peristiwa Kudatuli terjadi pada 27 Juli 1996 di kantor DPP PDI, Jalan Diponegoro. Insiden itu dipicu perebutan kekuasaan internal antara kubu Megawati dan kubu yang mendukung Soerjadi, yang memicu penyerbuan dan kerusuhan massal.
| Kategori | Jumlah |
|---|---|
| Meninggal | 5 |
| Luka-luka | 149 |
| Hilang | 23 |
Pesan dan implikasi
Djarot menekankan bahwa monumen ini menyampaikan pesan moral kuat: segala bentuk kekerasan atas nama kekuasaan tidak bisa dibenarkan secara hukum maupun kemanusiaan. Dengan hadirnya monumen, diharapkan generasi kini dan mendatang tidak melupakan peristiwa itu dan terus memperjuangkan kebenaran serta keadilan bagi para korban.
Peristiwa Kudatuli tetap menjadi pengingat penting dalam sejarah perjuangan demokrasi Indonesia.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
PDI Perjuangan Madiun Rampungkan Konsolidasi, Ranting dan Anak Ranting Dilantik
DPC PDI Perjuangan Kota Madiun melantik pengurus ranting dan anak ranting, menuntaskan konsolidasi organisas...
Kudatuli 1996: Arsip Luka 30 Tahun Menunggu Keadilan
Tiga puluh tahun setelah Kudatuli 1996, arsip mencatat korban dan indikasi pelanggaran HAM berat yang belum...
Kudatuli 1996: Lamongan Tegaskan Demokrasi untuk Rakyat
Peringatan 30 tahun Kudatuli di Lamongan menegaskan perjuangan demokrasi harus berujung pada pemerintahan ya...
Refleksi 30 Tahun Kudatuli di Jember: Puisi dan Solidaritas Papua
DPC PDI Perjuangan Jember menggelar refleksi 30 tahun Kudatuli dengan pembacaan puisi yang mengangkat kritik...
Peringatan Kudatuli di Blitar Jadi Pendidikan Politik bagi Kader Muda
DPC PDI Perjuangan Blitar memperingati 30 tahun Kudatuli pada 26 Juli 2026 untuk menguatkan pemahaman sejara...
Peringatan 30 Tahun Kudatuli, PDIP Kediri: Jaga Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat
PDIP Kabupaten Kediri memperingati 30 tahun Kudatuli untuk mengingatkan kader menjaga demokrasi, kebebasan b...