Refleksi 30 Tahun Kudatuli di Jember: Puisi dan Solidaritas Papua
JEMBER — DPC PDI Perjuangan Kabupaten Jember menggelar refleksi 30 tahun Peristiwa Kudatuli pada Minggu malam, 26 Juli 2026, di kantor partai setempat. Acara bertajuk "Jejak Luka Demokrasi Indonesia" menampilkan pembacaan puisi dan diskusi seni sebagai bentuk kritik sosial serta ruang ekspresi sejarah bagi generasi muda.
Pembacaan puisi angkat isu lingkungan dan demokrasi
Forum yang berlangsung mulai sekitar pukul 19.00 WIB hingga 23.30 WIB diwarnai pembacaan karya oleh seniman, budayawan, dan akademisi. Beberapa puisi menyinggung tema demokrasi, kebudayaan, serta persoalan sosial dan lingkungan.
Salah satu penampil, Wijaya yang dikenal dengan nama panggung Londo Koplak, membacakan puisi berjudul Pesta Babi. Dalam karyanya, ia menyinggung pembalakan hutan di Papua dan kaitannya dengan rencana pengembangan perkebunan kelapa sawit untuk kebutuhan bioenergi.
Aku wong Jowo titip salam nang dulur-dulur Papua. Tetap semangat, jangan lupa berdoa. Tuhanku, Tuhanmu, Tuhan kita semua sama. Percayalah semua akan indah pada waktunya, dan mereka akan mendapat balasannya.
Partisipan dan variasi karya
Selain Wijaya, pembacaan puisi juga dilakukan oleh Dr. Ikhwan Setiawan, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember, serta budayawan Bambang Wahyu dan Rendra yang akrab disapa Gareng. Karya yang dibacakan menekankan pentingnya memori kolektif dan kritik terhadap dinamika politik dan sosial.
Panitia membuka mimbar bebas sehingga para seniman mendapatkan kesempatan bergantian menyampaikan karya. Format acara bersifat santai namun terstruktur, memadukan seni pertunjukan dengan refleksi sejarah.
Tujuan refleksi menurut penyelenggara
Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Jember, Widarto, menyatakan keterlibatan unsur kebudayaan penting untuk memperkaya literasi sejarah bagi generasi muda dan mendorong pemahaman atas perjalanan demokrasi Indonesia sejak 27 Juli 1996.
Melalui refleksi ini kami ingin generasi muda memahami bahwa peristiwa 27 Juli 1996 menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia dan lahirnya era reformasi.
Makna acara dan implikasi ke depan
Acara refleksi menggunakan pendekatan seni untuk membuka ruang kritik dan dialog publik. Pendekatan ini menempatkan karya sastra dan pertunjukan seni sebagai medium untuk mengingat peristiwa sejarah sekaligus membangun empati antarwilayah, seperti ditunjukkan pesan solidaritas kepada masyarakat Papua.
Refleksi semacam ini berpotensi mendorong diskusi lebih luas tentang pelestarian lingkungan, kebijakan energi, dan tata kelola sumber daya, selain peringatan atas perjalanan demokrasi Indonesia.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
Dewanti: Reboisasi Jadi Prioritas RPJMD Usai Banjir Malang Raya
Dewanti Rumpoko mendesak reboisasi masuk prioritas RPJMD setelah banjir dan longsor di tujuh kecamatan Kabup...
Dewanti Dorong Reboisasi Jadi Prioritas RPJMD Usai Banjir Malang
Dewanti Rumpoko minta reboisasi hutan gundul jadi prioritas RPJMD setelah banjir dan longsor melanda tujuh k...
DPRD Jatim Dorong Perluasan Trans Jatim ke Jember, Madiun, Kediri
DPRD Jatim mendorong perluasan Trans Jatim ke Jember, Madiun, dan Kediri; realisasi terganjal biaya sekitar...
Majapahit Digital Didorong Jadi Platform Pengaduan Publik Terpadu
Saifudin Zuhri mendesak Majapahit Digital dikembangkan jadi platform pengaduan terpadu agar setiap laporan w...
PDI-P Dorong Majadigi Jadi Platform Pengaduan Terpadu
Saifudin Zuhri minta Majadigi dikembangkan jadi platform pengaduan terpadu agar setiap laporan warga di Jati...
Harvard Kurniawan Dorong Optimalisasi Lapangan Olahraga Melalui Mabol
Harvard Kurniawan mendorong Pemkot Malang perbaiki lapangan kelurahan dan gelar mabol rutin di Stadion Gajay...