Politik

Krisis Air Bersih di Bojonegoro: 15.000 Liter Disalurkan

Bagikan:
Warga antre menerima distribusi air bersih di Bojonegoro selama kekeringan

Bojonegoro — Kemarau panjang yang diperparah fenomena El Nino memicu krisis air bersih di Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro. Warga Desa Deru dan Desa Margoagung sejak awal Agustus bergantung pada bantuan darurat setelah sumur mengering dan pompa sumber air rusak.

Kondisi lapangan: sumur kering dan pompa rusak

Kondisi terparah terjadi di RT 003 RW 001 Desa Deru, di mana satu-satunya pompa sumber air mengalami kerusakan teknis sehingga distribusi ke rumah-rumah terhenti total. Di Desa Margoagung, beberapa sumur warga dilaporkan mengering sejak dua pekan terakhir.

Warga terpaksa menghemat penggunaan air, mengurangi frekuensi mandi dan mencuci, bahkan membeli galon air untuk kebutuhan mendesak. Beban biaya rumah tangga meningkat karena pengeluaran untuk air menjadi lebih besar.

Buat memasak, mandi, dan minum saja kami bingung. Sumber air memang sulit, ditambah lagi alatnya rusak,

— Sunaryo, warga Desa Deru.

Sudah hampir dua minggu sumur di rumah kering. Untuk mencuci dan memasak kami sangat irit. Kalau harus beli galon terus-menerus, biaya operasional rumah tangga jadi membengkak,

— Khotim, warga Margoagung.

Bantuan darurat: distribusi 15.000 liter air

Menanggapi situasi itu, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Abidin Fikri, bersama Tim Kebangsaan menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 15.000 liter ke dua desa terdampak. Pendistribusian dilakukan lewat titik kumpul umum dan layanan door-to-door untuk lansia serta pemukiman terpencil.

Abidin menyebut pengiriman tangki air sebagai langkah penanganan darurat sambil menilai bahwa solusi insidental tidak cukup untuk mengatasi masalah berkepanjangan.

Hari ini kita hadir membawa 15.000 liter air bersih sebagai penanganan darurat. Namun, tugas jangka panjangnya adalah pembenahan infrastruktur air bersih agar desa-desa rawan kekeringan memiliki akses permanen,

— Abidin Fikri.

Upaya jangka panjang dan pemetaan wilayah rawan

Pihak terkait tengah melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan di Bojonegoro untuk mendorong alokasi program infrastruktur air dari pemerintah pusat dan daerah. Perangkat desa juga mencatat kenaikan signifikan pengeluaran rumah tangga untuk pembelian air selama musim kemarau.

Langkah yang diusulkan mencakup perbaikan pompa, pembangunan sambungan air permanen, dan program cadangan air untuk periode kering. Tanpa langkah strategis jangka panjang, warga berisiko menghadapi krisis serupa setiap musim kemarau.

Penanganan darurat saat ini meredam kebutuhan mendesak, tetapi perbaikan infrastruktur menjadi kunci agar desa-desa di Bojonegoro tidak lagi bergantung pada bantuan insidental saat kemarau berikutnya.

Bima Prakoso
Penulis
Bima Prakoso

Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.

Berita Terkait