Kejari Medan Tahan Mantan Kepala Unit Tersangka Kasus Korupsi KUR
Medan – Kejaksaan Negeri (Kejari) Medan menyerahkan tersangka dan barang bukti (tahap II) dalam kasus dugaan korupsi pengelolaan realisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada sebuah bank BUMN di Kota Medan untuk periode 2021–2023. Penyerahan dan tahap penuntutan berlangsung pada 25 Mei 2026, disertai penahanan terhadap tersangka.
Penahanan dan proses tahap II
Pelaksanaan tahap II dilakukan oleh Jaksa Penyidik Pidsus Kejari Medan kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) Pidsus pada Senin, 25 Mei 2026. Tersangka berinisial S adalah mantan Kepala Unit bank tersebut pada 2021–2023.
“Pelaksanaan tahap II tersebut dilakukan pada Senin (25/5), oleh Jaksa Penyidik Pidsus Kejari Medan kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) Pidsus Kejari Medan,”
Selain penyerahan berkas dan barang bukti, Kejari juga melakukan penahanan tahap penuntutan selama 20 hari. Masa tahanan dihitung sejak 25 Mei 2026 sampai 13 Juni 2026 di Rutan Klas I Medan.
Modus dugaan penyimpangan pengajuan kredit
Hasil penyidikan menunjukkan adanya dugaan penyimpangan sejak tahap survei, verifikasi, persetujuan kredit, hingga pencairan dana. Meski beberapa pengajuan dinilai tidak layak oleh mantri karena tidak memenuhi kriteria, kredit tetap diproses dan disetujui.
Penyidik mendapati beberapa praktik yang merugikan debitur atau negara, antara lain:
- Nasabah menerima sebagian kecil dari nilai realisasi kredit, sedangkan sisa dana diduga dikuasai atau digunakan oleh tersangka.
- Buku tabungan dan kartu ATM nasabah diketahui dipegang pihak lain sehingga penguasaan dana tidak sepenuhnya berada pada debitur.
- Terdapat kredit bermasalah dengan kolektibilitas tinggi (Kol 5) dan indikasi fraud dalam pelaksanaan kredit.
Kerugian negara dan pasal yang disangkakan
Berdasarkan audit internal dan pemeriksaan terhadap 26 rekening bermasalah, penyidik memperkirakan kerugian keuangan negara sebesar Rp963.195.635 atau sekitar Rp963 juta.
“Berdasarkan hasil audit internal dan proses penyidikan terhadap 26 rekening kredit bermasalah, diperoleh hasil kerugian keuangan negara sebesar Rp963.195.635 atau sekitar Rp963 juta,”
Tersangka dijerat dengan Pasal 603 KUHP juncto Pasal 18 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Sebagai alternatif (subsider) juga dikenakan Pasal 18 UU No. 20/2001 juncto Pasal 20 serta Pasal 618 KUHP.
Langkah selanjutnya
Dengan pelimpahan tahap II, berkas perkara kini berada di tangan JPU untuk proses penuntutan. Kasus ini membuka sorotan pada tata kelola penyaluran KUR dan penerapan prinsip kehati-hatian di internal perbankan.
Penyidikan lebih lanjut dan persidangan akan menentukan pertanggungjawaban hukum tersangka serta upaya pemulihan kerugian negara.
Berita Terkait
Disperindag Sumut Tegur Aroma Bakery setelah Video Kue Diduga Berjamur
Disperindag ESDM Sumut menegur Aroma Bakery setelah pengawasan menemukan kue tanpa tanggal kedaluwarsa usai...
Polres Madina Tilang Puluhan Motor Pengguna Knalpot 'Brong'
Satlantas Polres Mandailing Natal menilang puluhan kendaraan pengguna knalpot brong pada operasi hunting sis...
Eks Kadis PUTR Binjai dan PPTK Dituntut 2 Tahun atas Korupsi DBH Sawit
Mantan Plt Kadis PUTR Binjai dan PPTK dituntut 2 tahun penjara terkait korupsi proyek jalan DBH sawit senila...
Pemprov Sumut Pusatkan Salat Idul Adha 1447 H di Lapangan Merdeka Binjai
Pemprov Sumut memusatkan Salat Idul Adha 1447 H di Lapangan Merdeka Binjai, dihadiri Gubernur Bobby Nasution...
Sumut Gelontorkan Rp1,3 T untuk Infrastruktur 2026
Pemprov Sumut mengalokasikan Rp1,372 triliun untuk infrastruktur 2026, meliputi PHTC, PSD, pascabencana, dan...
Pemprov Sumut Siapkan 167 Hewan Kurban untuk Idul Adha 2026
Pemprov Sumut menyiapkan 167 hewan kurban untuk Idul Adha 2026, dengan penyembelihan terpusat di Binjai dan...