Kisah di Balik Lagu 'Dari Sabang Sampai Merauke'
Lagu 'Dari Sabang Sampai Merauke' menggambarkan luas wilayah Indonesia dan menyimpan sejarah perubahan judul serta lirik. Lagu ini awalnya dikenal berbeda nama dan mengalami modifikasi pada awal 1960-an sehingga menggunakan nama Sabang dan Merauke sebagai penanda wilayah negara.
Asal usul judul
Menurut Badan Bahasa, versi awal lagu itu berjudul 'Dari Barat Sampai ke Timur'. Perubahan nama menjadi 'Dari Sabang Sampai Merauke' terjadi pada awal 1960-an.
Badan Bahasa mencatat bahwa lagu itu "awalnya bernama 'Dari Barat Sampai ke Timur'."
Perubahan judul kemudian memakai nama dua titik terjauh di Indonesia, Sabang dan Merauke, sebagai simbol wilayah barat dan timur.
Kepemilikan dan penciptaan lagu
Versi awal lagu kerap dikaitkan dengan Wage Rudolf Soepratman, pencipta Indonesia Raya. Namun catatan lain menyebut nama R. Soerardjo sebagai pencipta lagu 'Dari Sabang Sampai Merauke'.
Perbedaan atribusi ini tercatat dalam berbagai sumber sejarah musik nasional. Meski begitu, perubahan judul dan penyebarannya membuat lagu ini tetap dikenal luas sebagai bagian dari repertoire kebangsaan.
Pesan kebangsaan dan dampak
Lirik lagu menegaskan bahwa seluruh daerah dari Sabang hingga Merauke merupakan bagian dari satu kesatuan negara. Pesan itu ikut membangun semangat persatuan dan identitas nasional.
Penggunaan nama Sabang dan Merauke dalam judul membuat lagu ini mudah dikenali dan sering dipakai dalam konteks peringatan kebangsaan atau kegiatan yang menekankan integritas wilayah.
Kesimpulan
Perjalanan judul dan atribusi pencipta menunjukkan bagaimana sebuah lagu dapat berkembang seiring waktu dan konteks historis. 'Dari Sabang Sampai Merauke' tetap berfungsi sebagai simbol kebangsaan dan pengingat pentingnya persatuan negara kesatuan Indonesia.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
101,5 Ton Logistik Dikirim untuk Korban Gempa NTT
Pemerintah mengirimkan 101,5 ton logistik ke korban gempa NTT selama 15-17 Agustus 2026 melalui jalur udara...
BMKG Catat 2.119 Gempa Susulan Guncang NTT hingga 18 Agustus 2026
BMKG mencatat 2.119 gempa susulan di NTT hingga 18 Agustus 2026 setelah gempa utama magnitudo 7,7 di Flores;...
Prabowo Dorong Kedaulatan Emas, Indonesia Kelola 153 Ton
Presiden Prabowo mendorong kedaulatan emas dengan membangun ekosistem bullion bank; Indonesia kini mengelola...
Kementerian Perkuat Pencegahan Karhutla Pasca Kebakaran Bromo
Kementerian Kehutanan perkuat pencegahan karhutla pasca kebakaran Bromo dengan fokus kesiapsiagaan tapak, pe...
Kemenko Polkam Tekankan Sinergi Jaga Stabilitas di HUT ke-81
Kemenko Polkam peringati HUT ke-81 pada 17 Agustus 2026 dan menekankan sinergi untuk menjaga stabilitas poli...
BPOM Rayakan HUT ke-81: WLA Jadi Kado untuk Indonesia Emas 2045
BPOM merayakan HUT ke-81 dengan upacara adat dan menjadikan status WHO Listed Authority (WLA) sebagai kado u...