5 Kesalahan Umum dalam Membuat Customer Journey Map
Perusahaan sering membuat peta perjalanan pelanggan yang keliru karena beberapa kesalahan umum. Pembuatan customer journey map yang salah dapat menyesatkan strategi pemasaran dan layanan, sehingga kebutuhan serta hambatan nyata pelanggan tidak tertangkap. Artikel ini merangkum lima kesalahan yang harus dihindari dan langkah perbaikan praktis.
Lima kesalahan yang sering terjadi
-
Melihat dari sudut pandang internal.
Banyak tim menyusun peta berdasarkan asumsi atau preferensi perusahaan, bukan pengalaman pelanggan. Akibatnya, peta tidak mencerminkan perjalanan pengguna yang sesungguhnya.
-
Menggunakan satu peta untuk semua segmen.
Setiap segmen pelanggan memiliki karakteristik, kebutuhan, dan perilaku berbeda. Mengandalkan satu peta tunggal berisiko membuat strategi kurang relevan untuk kelompok tertentu.
-
Tidak memasukkan semua titik interaksi (touchpoint).
Interaksi pelanggan berlangsung di banyak kanal, termasuk situs web, media sosial, layanan pelanggan, tenaga penjualan, dan toko fisik. Mengabaikan kanal tertentu meremehkan faktor penting yang memengaruhi keputusan pembelian.
-
Tidak menetapkan tujuan jelas dan kurang kolaborasi lintas divisi.
Peta yang dibuat tanpa tujuan—misalnya meningkatkan retensi atau mempercepat proses pembelian—sering tidak operasional. Selain itu, tanpa keterlibatan pemasaran, penjualan, layanan, dan pengembangan produk, gambaran menjadi terfragmentasi.
-
Menjadikan peta sebagai dokumen statis.
Perilaku pelanggan berubah seiring teknologi dan tren pasar. Jika peta tidak ditinjau dan diperbarui secara berkala, strategi yang dibangun bisa usang.
Cara memperbaiki dan praktik terbaik
Untuk menghasilkan customer journey map yang akurat, mulailah dengan riset primer: survei, wawancara, dan analitik perilaku. Susun peta berdasarkan data nyata dan bedakan menurut persona pelanggan agar tiap segmen terlayani secara tepat.
Selain itu, pastikan peta mencakup seluruh touchpoint—digital maupun offline—dan tetapkan tujuan yang jelas sebelum menyusun peta. Libatkan tim lintas fungsi agar solusi yang dihasilkan dapat diimplementasikan secara menyeluruh.
Terakhir, jadwalkan tinjauan berkala untuk menyesuaikan peta dengan perubahan perilaku pelanggan dan perkembangan produk atau kanal distribusi.
Mengapa peta perjalanan pelanggan penting?
Customer journey map yang disusun dengan baik membantu perusahaan memahami kebutuhan pelanggan lebih mendalam. Informasi ini menjadi dasar untuk meningkatkan layanan, memperbaiki proses pembelian, dan menyusun strategi yang lebih tepat sasaran.
Dengan menghindari lima kesalahan di atas dan menerapkan perbaikan, perusahaan dapat menjadikan peta perjalanan pelanggan sebagai alat pengambilan keputusan yang akurat sekaligus membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Bunga Utang Capai Rp394,1 T, APBN Agustus 2026 Defisit
Pembayaran bunga utang mencapai Rp394,1 triliun hingga Agustus 2026, membuat APBN tercatat defisit Rp240,1 t...
Pembiayaan Utang Capai Rp506 T hingga Agustus 2026
Realisasi pembiayaan utang neto Rp506 triliun hingga 31 Agustus 2026, setara 60,8% dari target APBN 2026; SB...
IHSG Melemah 0,33% ke 6.441,15 pada Penutupan Jumat
IHSG turun 0,33% ke 6.441,15 pada penutupan Jumat; volume 32,6 miliar saham dan nilai transaksi Rp19,2 trili...
Penerbitan SBN 2026 Tetap Sesuai Rencana, Defisit APBN 2,85%
Kemenkeu: penerbitan SBN hingga akhir 2026 on track untuk penuhi pembiayaan dan jaga outlook defisit APBN 2,...
Sharp Indonesia Raih Dua Penghargaan PR Pilihan Jurnalis 2026
Sharp Indonesia dan Andry Adi Utomo meraih dua penghargaan Journalists’ Choice di Indonesia PR of the Year 2...
AXA dirikan AXA Sharia Life untuk perluas proteksi syariah
AXA mendirikan AXA Sharia Life Insurance dan mendapat izin OJK untuk memperkuat layanan asuransi syariah di...