Petani Durian Nunukan Butuh Edukasi agar Produksi Naik
Nunukan — Produksi durian melimpah pada panen raya 2026, namun banyak petani di daratan Kabupaten Nunukan belum menerapkan teknik budidaya profesional. Minimnya edukasi dan pendampingan membuat perawatan pohon masih bersifat trial-and-error, sehingga hasil panen berpotensi tidak maksimal.
Observasi lapangan: praktik bertanam yang sporadis
Menurut pemerhati durian lokal, Rahman, mayoritas petani menanam durian karena tren, bukan karena pemahaman agronomi yang memadai. Pengamatan lapangan menunjukkan pola perawatan yang tidak seragam dan jarang menerapkan standar pemupukan maupun pemangkasan.
Kondisi ini terjadi sepanjang musim panen, sehingga kualitas buah dan produktivitas berfluktuasi. Rahman menilai budaya penanaman yang lebih bersifat coba-coba menjadi hambatan utama bagi peningkatan mutu durian lokal.
Bukti dari praktik: manfaat perawatan intensif
Rahman membagi pengalamannya merawat kebun selama beberapa musim terakhir. Ia mengatakan bahwa sentuhan ilmu pertanian pada perawatan kebun memberikan perbedaan nyata pada kualitas hasil panen.
Perawatan intensif yang dilakukan meliputi pengaturan pemupukan, pemangkasan terencana, dan pengawasan hama penyakit sejak dini. Perbedaan tersebut menjadi bukti bahwa intervensi pupuk dan perawatan sejak dini penting, bukan sekadar membiarkan pohon tumbuh liar hingga berbuah.
Tantangan: minimnya pendampingan instansi
Rahman menyayangkan kurangnya program penyuluhan dan pendampingan dari pihak terkait. Menurutnya, tanpa dukungan teknis dari instansi seperti dinas pertanian, potensi durian Nunukan sulit naik kelas ke pasar yang lebih baik.
Memang pemahaman petani kita perlu edukasi, dan mereka juga jarang sekali mendapatkan edukasi dari Dinas Pertanian, ujar Rahman, Selasa (28/07/2026).
Kurangnya akses terhadap pelatihan, bahan baku pertanian berkualitas, dan layanan teknis membuat petani tradisional kesulitan menerapkan praktik budidaya modern.
Harapan dan langkah yang diperlukan
Para petani berharap adanya program pelatihan terpadu, penyuluhan lapangan, serta akses ke pupuk dan layanan agronomi. Langkah ini dinilai krusial untuk mengubah pola pikir petani dari sekadar menanam menjadi mengelola kebun durian secara profesional.
Jika pendampingan dan edukasi ditingkatkan, Nunukan berpeluang memaksimalkan potensi duriannya—baik dari sisi kuantitas maupun kualitas—dan membuka akses pasar yang lebih menguntungkan bagi petani lokal.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Harga Cabe Rawit di Singkil Tembus Rp70 Ribu
Harga cabe rawit di Pasar Lae Butar, Aceh Singkil melonjak menjadi Rp70.000/kg; beberapa kebutuhan pokok jug...
Harga Timun di Purbalingga Melonjak Dua Kali Lipat
Harga timun di Purbalingga naik dari Rp5.000 menjadi Rp13.000–15.000/kg, menekan keuntungan pedagang lokal.
Bank Mandiri Buka Cabang di Bagansiapiapi, Perkuat UMKM Rohil
Bank Mandiri meresmikan cabang baru di Bagansiapiapi, Rohil, 27 Juli 2026 untuk memperluas layanan dan mempe...
Danantara Dilibatkan dalam Keputusan KSSK atas Arahan Presiden
Presiden minta Danantara dilibatkan dalam keputusan KSSK agar kebijakan berdampak langsung pada perekonomian...
KSSK Bersinergi Dukung Kebijakan Pemerintah, BI Tegaskan Stabilitas Rupiah
KSSK yang dipimpin Presiden Prabowo menyatakan sinergi dengan kementerian dan lembaga untuk dukung kebijakan...
Mimi Bento Kembangkan Usaha Kuliner Lewat Jualan Keliling
Mimi Bento di Palembang kembangkan usaha lewat jualan berpindah, buka pagi-sore di beberapa titik dengan har...