Lokal

Tgk Marbawi Yusuf: Makna Kemerdekaan Sejati bagi Umat Islam

Bagikan:
Tgk Marbawi Yusuf menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Istiqamah Kemukiman Baet Aceh Besar

ACEH BESAR — Pimpinan Dayah Muda Indrapuri sekaligus Ketua Majelis Akreditasi Dayah Aceh, Tgk. Marbawi Yusuf, SH, menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Istiqamah Kemukiman Baet, Kecamatan Sukamakmur, Aceh Besar, Jumat (21/8) bertepatan 8 Rabiul Awal 1448 H. Ia mengajak jamaah memaknai kemerdekaan bukan sekadar kebebasan fisik, melainkan pembebasan dari hawa nafsu, dosa, dan segala yang menjauhkan dari Allah SWT.

Inti khutbah: kemerdekaan hakiki

Tgk. Marbawi menegaskan bahwa kemerdekaan dan kemenangan sejati adalah anugerah Allah SWT. Menurutnya, mukmin tidak cukup mengejar kebebasan duniawi. Ia harus berupaya meraih keselamatan akhirat, terbebas dari siksa neraka dan memperoleh kenikmatan surga.

“Inilah kemenangan yang sesungguhnya. Bukan sekadar memiliki harta yang banyak, jabatan yang tinggi, rumah yang megah, atau kehidupan dunia yang serba cukup. Kemenangan terbesar adalah ketika Allah menyelamatkan kita dari neraka dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya,”

Bagaimana mewujudkan kemerdekaan sejati

Dalam penjelasannya, Tgk. Marbawi menyebutkan bahwa kemerdekaan sejati bermula dari iman dan ketaatan kepada Allah SWT. Hati yang merdeka berarti tidak tunduk kepada selain Allah. Ia mengatakan, kemerdekaan lahiriah belum cukup bila hati tetap diperbudak hawa nafsu, harta, atau popularitas.

Lebih lanjut, ia menguraikan tindakan praktis untuk memerdekakan diri dari dosa. Umat harus menjaga pandangan, telinga, lisan, tangan, kaki, dan perut dari hal-hal yang dilarang Allah. Jangan sampai kemerdekaan lahiriah justru disertai penindasan terhadap kehormatan orang lain.

Kesabaran, ketakwaan, dan jihad melawan hawa nafsu

Tgk. Marbawi memaparkan tiga bentuk kesabaran yang perlu dimiliki mukmin: sabar dalam ketaatan, sabar meninggalkan maksiat, dan sabar menghadapi ujian hidup. Ia menegaskan, sabar bukan pasrah tanpa usaha, melainkan teguh berpegang pada jalan Allah saat menghadapi kesulitan.

“Ketika ada kesempatan berbuat dosa tetapi kita meninggalkannya karena takut kepada Allah, saat itulah kita sedang belajar menjadi manusia merdeka. Ketika kita mampu menahan amarah, padahal kita mampu membalas, itulah kemerdekaan jiwa. Ketika kita mampu memaafkan orang lain, padahal kita mempunyai kesempatan untuk membalas, itulah kemuliaan akhlak,”

Ia juga menjelaskan makna jihad dalam pengertian luas: kesungguhan menaati Allah dan memperjuangkan kebaikan sesuai syariat. Perjuangan melawan hawa nafsu menjadi bagian penting dari upaya meraih kemerdekaan hakiki.

Pesan untuk bangsa dan umat

Tgk. Marbawi mengajak umat memanfaatkan momentum kemerdekaan bangsa untuk memperbarui kemerdekaan diri. Bangsa merdeka seharusnya diisi oleh manusia yang beriman, bertakwa, jujur, amanah, sabar, dan berakhlak mulia.

“Kemerdekaan bangsa harus kita isi dengan ketaatan. Kemerdekaan harus kita isi dengan keadilan. Kemerdekaan harus kita isi dengan persaudaraan... dan kemerdekaan harus kita arahkan menuju keridhaan Allah SWT,”

Khutbah berakhir dengan penekanan bahwa kebebasan sejati hanya tercapai bila setiap Muslim membebaskan diri dari belenggu dosa dan mengarahkan hidup pada ridha Allah SWT.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait