Nasional

MenPPPA: Kasus Balita di Bekasi Jadi Alarm Perlindungan Anak

Bagikan:
Menteri PPPA Arifah Fauzi menanggapi kasus balita di Bekasi

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi menyatakan tewasnya seorang balita di Kabupaten Bekasi menjadi alarm serius bagi perlindungan anak dalam lingkungan keluarga. Pernyataan disampaikan pada keterangan pers di Jakarta, Jumat, 17 Juli 2026, dan Kementerian PPPA berjanji mengawal proses hukum agar berjalan adil sesuai perundang-undangan.

Respons kementerian dan penanganan kasus

Kementerian PPPA telah berkoordinasi dengan UPTD PPA Kabupaten Bekasi sejak 9 Juli 2026 untuk mengawal penanganan kasus dan memastikan pembiayaan perawatan korban. Arifah memberi apresiasi atas respons cepat UPTD PPA dan Polres Metro Bekasi dalam menangani peristiwa ini.

Kami menyampaikan bela sungkawa yang mendalam atas meninggalnya seorang anak balita di Kabupaten Bekasi. Anak merupakan kelompok yang paling rentan dan harus dilindungi dari segala bentuk kekerasan.

Motif dugaan dan ancaman hukum

Polisi menduga motif penganiayaan dipicu rasa cemburu pelaku terhadap nenek korban, yang dinilai pelaku lebih memperhatikan korban daripada anak kandungnya sendiri. Pelaku kasus ini adalah orang tua atau ibu tiri korban.

Pelaku terancam hukuman maksimal 15 tahun penjara dan denda hingga Rp3 miliar. Karena status pelaku sebagai orang tua atau ibu tiri, ancaman pidana ditambah sepertiga sesuai ketentuan yang berlaku.

Perhatian pada anak lain dan asesmen psikologis

Kementerian PPPA juga memberi perhatian terhadap anak kandung pelaku yang masih berusia 11 bulan. Hak-hak bayi tersebut harus tetap dipenuhi selama ibu menjalani proses hukum, termasuk melalui pengasuhan alternatif yang aman.

Jangan sampai anak kandung pelaku yang masih bayi ini ikut menjadi korban, baik kekerasan maupun penelantaran akibat kasus ini. Asesmen psikologis kepada pelaku juga perlu dilakukan secara mendalam.

Imbauan pengasuhan dan kontrol emosi

Arifah menekankan bahwa keselamatan anak harus menjadi prioritas dalam setiap penanganan kasus kekerasan. Ia mengajak orang tua membangun pola pengasuhan yang sehat dan kemampuan mengendalikan emosi di lingkungan keluarga.

Kejadian ini merupakan pukulan keras bagi kita semua bahwa di dalam lingkungan keluarga yang dianggap paling aman pun, anak masih rentan menjadi korban. Anak tidak pernah meminta untuk dilahirkan, sehingga ketika kita memilih membangun keluarga, kita harus siap dengan segala konsekuensi pengasuhannya.

Kementerian PPPA menyatakan akan terus mengawal proses hukum dan koordinasi dengan pihak berwenang agar proses berjalan seadil-adilnya bagi korban, serta memastikan pemenuhan hak anak lain yang terdampak oleh kasus ini.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait